Translate

Jumat, 25 November 2016

Cerita Pendek - The Little Piece of ...



                Ingatanku kembali ke masa lalu, kenangan yang tidak mungin kulupakan sampai kapanpun. Saat itu usiaku masih delapan tahun, aku duduk di kelas dua sekolah dasar. Anak itu memasuki ke kelasku, wajahnya sangat mengerikan, matanya melotot, aku yakin pasti dia anak nakal. “John, please introduce yourself to your new classmate. (John, silahkan perkenalkan diri kepada teman barumu)” Mrs. Nuri, guru favoritku tersenyum manis kepada anak itu, namun anak laki – laki itu tidak bergeming. “John…, do you hear me (apa kamu mendengar perkataan saya)?” Mrs Nuri kembali bertanya, anak laki – laki itu menoleh.
                I don’t want to be here, the hot weather, the freak people and language. (Aku tidak ingin berada disini, cuacanya panas, orang dan bahasanya aneh)” Anak laki – laki itu berteriak. Aku dengar beberapa siswa di sekitarku tampak sebal dan membicarakan anak laki – laki itu. Aku memang bersekolah di sekolah internasional, banyak diantara siswa disini tidak lancar berbahasa Indonesia, karena terbiasa menggunakan bahasa asli di rumahnya.
                John, you just don’t know yet, you will found a many good friends. We going to playing and studying together (kamu hanya belum tahu, kamu akan memiiki banyak teman yang baik disini. Kita bermain dan belajar bersama).” Mrs. Nuri masih mencoba ramah kepada anak itu, tapi dia tetap diam. Akhirnya Mrs. Nuri berhenti membujuknya dan menghadap ke arah kami.
                Ok class, we have a new friend, his name is Benjamin Johnson, coming from New Brunswick, Canada. He is a timid boy. Perhaps, you can ask him later (Baik murid – murid, kita memiliki teman baru, datang dari New Brunswick, Canada. Dia sangat pemalu. Mungkin, kalian bisa bertanya padanya nanti.).” Mrs. Nuri berseloroh dengan nada bercanda dan wajah yang tetap riang. Aku sangat suka padanya. Mrs. Nuri sederhana dan tidak pernah membeda – bedakan kami walaupun kami memiliki ras yang berbeda – beda dan datang dari belahan bumi yang berbeda pula.
                Mrs. Nuri mengajak John untuk duduk di bangku kosong. “I don’t want to sit beside a brat, Mrs. (aku tidak ingin duduk disamping anak nakal).” Kata Patrick, dia satu – satunya anak di kelas ini yang duduk sendiri dan tidak ada bangku lain yang kosong. Hal ini tidak membuat Mrs. Nuri gentar. Mrs Nuri malah mengajak kami bermain games berhitung dengan membagikan kertas kepada kami semua. Kami dipanggil berdasarkan nomor urut dan sialnya aku harus duduk dengan anak nakal itu.
                Hi, my name is Eva.” Aku mencoba ramah padanya.
                I’m John.” Dia balas menyalamiku.
                Sejenak kami hanya diam, aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan dengannya. “I lose my pencil, do you have (Aku kehilangan pensilku, bisa meminjamiku)?” Tanya John padaku disela jam pelajaran.
                Yeah.” Jawabku sembari membuka kotak pensilku.
                Thank you.” Jawabnya. Aku bisa melihat wajah John yang keheranan. John pasti tidak suka dengan pensilku yang berwarna pink dengan tutup mickey mouse di atasnya. Tapi apa boleh buat, semua pensilku memang seperti itu.
***
                John, what are you doing here (apa yang sedang kamu lakukan disini)?” Tanyaku, karena jam pulang sekolah sudah usai dan aku juga sedang menunggu sopirku yang telat datang.
                I’m waiting for my Mom, and you (Aku sedang menunggu mamaku, dan kamu).” Jawabnya.
                I’m waiting for my driver, I called him Pak Paijo.” Jawabku.
Aku duduk disampingnya dan John mulai menatapku. “You can speak Indonesia?” Tanya John.
                “Ehem.” Aku mengangguk pelan.
                Teach me.” John menatapku. “Please.”
                Why?” Tanyaku.
                To found my Dad. He was disappear (untuk menemukan ayahku. Dia telah menghilang).” Jawabnya santai.
                John. Sorry for waiting, Mom so busy at the office (maaf telah menunggu, Mama sibuk di sekali kantor).” Tidak lama Mama John datang
                No problem, Mom. She is my friend, Eva.” John memperkenalkanku pada Mamanya dan aku menyalaminya. Aku sangat iri pada John, Mamanya rela datang menjemput padahal sedang bekerja. Sangat berbeda dengan Papa yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan yang terpenting, aku tidak yakin apakah aku pernah memilki Mama.
                “Eva, you have not picked up (kamu belum dijemput)?” Tanya Mama John.
                Aku hanya mengangguk pelan. Aku takut mereka pergi meninggalkanku. Aku belum pernah terlambat dijemput sebelumnya. “Sayang, maaf lama menunggu, tadi Paijo sakit makannya Papa yang menjemput.” Papa memelukku lalu menggendongku rasanya senang sekali dijemput olehnya.
                “Pa, kenalkan teman baruku dan Mamanya. Mereka menemaniku menunggu Papa.” Aku menunjuk ke arah John dan Mamanya.
                My name is Rhensu, I don’t know what happened if you’re not here with my child. (aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak disini).” Papa menyalami John dan Mamanya. “Maybe, we can lunch together. As a thank you (mungkin, kita bisa makansiang bersama. Sebagai ucapan terima kasih).”
                My name is Murphy and my son John. I’m so excited to do but I have to come back to the office (Saya sangat tertarik, tapi sepertinya saya harus kembali ke kantor).” Jawab Mama John.
                Mom, I have to learning Indonesian language with Eva (Aku harus belajar bahasa Indonesia).” John merengek.
                Maybe tomorrow (mungkin besok), John.” Mama John tetap pergi dan mennggandeng John masuk ke dalam angkutan umum yang tersedia tidak jauh dari sekolah. Meninggalkanku dan Papa yang masih berdiri tegak, belum mengerti.
***
                “Va… hei….” John menggerak – gerakkan tangannya di depan mataku.
                “John, sejak kapan kamu disitu?” Tanyaku kaget.
                “Sejak melihat mulutmu terbuka lebar dan pandanganmu kosong.” John tertawa lebar.
                “Kamu selalu saja usil.” Aku menyandarkan tubuhku di meja belajarku.
                John masih tetap duduk di ranjangku dan menatapku. “Apa kamu tidak bosan, sepanjang hidupmu hanya belajar dan belajar.” Kata John dengan nada mengejek.
                “John, kamu tidak ingat tujuanmu belajar Bahasa Indonesia adalah untuk mencari Papamu?” Tanyaku tiba – tiba. Aku tidak tahu kenapa aku menanyakan hal ini. John samasekali tidak pernah menyinggung soal ini sebelumnya. Tapi aku tidak mampu lagi menahan rasa penasaranku.
                “Aku tidak perlu mencari Dad, karena aku sudah memiliki Papa yang jauh lebih baik.” Jawab John. Papa menikahi Mama John setahun setelah kami berteman.
                “Oh, aku senang karena kamu menganggap Papa adalah Papamu juga. Tapi kenapa kamu tidak melanjutkan kuliahmu?” Tanyaku lagi.
                “Aku masih fokus dengan bandku.” Jawab John. Papa memang tidak pernah memaksa John untuk berprestasi, tapi Papa hanya berharap John untuk menyelesaikan kuliahnya dan menjadi laki – laki yang dapat diandalkan.
                “Eva, John makan malam sudah siap.“ Teriak Mama John yang sekarang menjadi Mamaku juga. Terkadang aku senang Papa menikahi Mama John, dengan begitu aku dapat terus bersama John. Tapi aku juga harus menerima kenyataan bahwa aku dan John, mungkin tidak akan pernah bersatu. Aku selalu takut bila lama menatapnya, aku takut John akan menertawaiku jika mengetahui perasaanku yang sebenarnya padanya.
***
                “John….” Aku berteriak ketika melihat John melambaikan tangan. Segera aku masuk ke dalam mobil.
                “Ada apa?” John terkejut melihat nafasku yang tidak beraturan.
                “Aku akan melanjutkan magisterku di New Castle Universities.” Aku bersorak kegirangan.
                “Australia? Kamu diterima kuliah disana?” John mencibir.
                “Lihat ini.” Aku menunjukkan surat resmi penerimaan mahasiswa transfer jurusan Business Management.
                Oh my God.” John membolak – balik surat itu. “Bagaimana bisa?” Tanyanya lagi.
                I don’t know.” Jawabku santai dengan senyum kemenangan yang tersungging di sudut bibirku. Aku sudah bisa membayangkan pengalaman baru yang akan kudapatkan disana.
                “Apa kamu senang?” Tanya John.
                “Tentu saja.” Jawabku, masih belum mengerti apa maksud dari perkataan John.
                “Baiklah, traktir makan siang.” John mulai menyalakan musik kesukaannya Iris dari Goo Goo Dolls sembari menyetir untuk sesekali menyanyi dan menganggukkan kepala mengikuti ritme. “And I don’t want the world to see me, cause I don’t think that they‘d understand.” Suara John memang bagus.
                When everything’s made to be broken. I just want you to know who I’m.” Aku melanjutkan potongan lirik berikutnya. Sejak kecil kami memang selalu melakukan hal ini sambung menyambung lirik dan selera musik kami memang tidak jauh berbeda. Jika aku bisa memilih. Aku ingin tetap disini bersama John. Aku hanya ingin bersamanya walaupun aku tahu tidak akan pernah bisa memilikinya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar