Ingatanku
kembali ke masa lalu, kenangan yang tidak mungin kulupakan sampai kapanpun. Saat
itu usiaku masih delapan tahun, aku duduk di kelas dua sekolah dasar. Anak itu memasuki
ke kelasku, wajahnya sangat mengerikan, matanya melotot, aku yakin pasti dia
anak nakal. “John, please introduce
yourself to your new classmate. (John, silahkan perkenalkan diri kepada teman
barumu)” Mrs. Nuri, guru favoritku tersenyum manis kepada anak itu, namun anak
laki – laki itu tidak bergeming. “John…, do
you hear me (apa kamu mendengar perkataan saya)?” Mrs Nuri kembali
bertanya, anak laki – laki itu menoleh.
“I don’t want to be here, the hot weather, the
freak people and language. (Aku tidak ingin berada disini, cuacanya panas,
orang dan bahasanya aneh)” Anak laki – laki itu berteriak. Aku dengar beberapa
siswa di sekitarku tampak sebal dan membicarakan anak laki – laki itu. Aku memang
bersekolah di sekolah internasional, banyak diantara siswa disini tidak lancar berbahasa
Indonesia, karena terbiasa menggunakan bahasa asli di rumahnya.
“John, you just don’t know yet, you will
found a many good friends. We going to playing and studying together (kamu
hanya belum tahu, kamu akan memiiki banyak teman yang baik disini. Kita bermain
dan belajar bersama).” Mrs. Nuri masih mencoba ramah kepada anak itu, tapi dia
tetap diam. Akhirnya Mrs. Nuri berhenti membujuknya dan menghadap ke arah kami.
“Ok class, we have a new friend, his name is Benjamin
Johnson, coming from New Brunswick,
Canada. He is a timid boy. Perhaps, you can ask him later (Baik murid –
murid, kita memiliki teman baru, datang dari New Brunswick, Canada. Dia sangat pemalu. Mungkin, kalian
bisa bertanya padanya nanti.).” Mrs. Nuri berseloroh dengan nada bercanda dan
wajah yang tetap riang. Aku sangat suka padanya. Mrs. Nuri sederhana dan tidak
pernah membeda – bedakan kami walaupun kami memiliki ras yang berbeda – beda
dan datang dari belahan bumi yang berbeda pula.
Mrs.
Nuri mengajak John untuk duduk di bangku kosong. “I don’t want to sit beside a brat, Mrs. (aku tidak ingin duduk
disamping anak nakal).” Kata Patrick, dia satu – satunya anak di kelas ini yang
duduk sendiri dan tidak ada bangku lain yang kosong. Hal ini tidak membuat Mrs.
Nuri gentar. Mrs Nuri malah mengajak kami bermain games berhitung dengan
membagikan kertas kepada kami semua. Kami dipanggil berdasarkan nomor urut dan
sialnya aku harus duduk dengan anak nakal itu.
“Hi, my name is Eva.” Aku mencoba ramah
padanya.
“I’m John.” Dia balas menyalamiku.
Sejenak
kami hanya diam, aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan dengannya. “I lose my pencil, do you have (Aku
kehilangan pensilku, bisa meminjamiku)?” Tanya John padaku disela jam
pelajaran.
“Yeah.” Jawabku sembari membuka kotak
pensilku.
“Thank you.” Jawabnya. Aku bisa melihat
wajah John yang keheranan. John pasti tidak suka dengan pensilku yang berwarna
pink dengan tutup mickey mouse di atasnya. Tapi apa boleh buat, semua pensilku
memang seperti itu.
***
“John, what are you doing here (apa yang
sedang kamu lakukan disini)?” Tanyaku, karena jam pulang sekolah sudah usai dan
aku juga sedang menunggu sopirku yang telat datang.
“I’m waiting for my Mom, and you (Aku sedang
menunggu mamaku, dan kamu).” Jawabnya.
“I’m waiting for my driver, I called him
Pak Paijo.” Jawabku.
Aku duduk
disampingnya dan John mulai menatapku. “You
can speak Indonesia?” Tanya John.
“Ehem.”
Aku mengangguk pelan.
“Teach me.” John menatapku. “Please.”
“Why?” Tanyaku.
“To found my Dad. He was disappear (untuk
menemukan ayahku. Dia telah menghilang).” Jawabnya santai.
“John. Sorry for waiting, Mom so busy at the
office (maaf telah menunggu, Mama sibuk di sekali kantor).” Tidak lama Mama
John datang
“No problem, Mom. She is my friend, Eva.”
John memperkenalkanku pada Mamanya dan aku menyalaminya. Aku sangat iri pada
John, Mamanya rela datang menjemput padahal sedang bekerja. Sangat berbeda
dengan Papa yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan yang terpenting, aku
tidak yakin apakah aku pernah memilki Mama.
“Eva,
you have not picked up (kamu belum
dijemput)?” Tanya Mama John.
Aku
hanya mengangguk pelan. Aku takut mereka pergi meninggalkanku. Aku belum pernah
terlambat dijemput sebelumnya. “Sayang, maaf lama menunggu, tadi Paijo sakit
makannya Papa yang menjemput.” Papa memelukku lalu menggendongku rasanya senang
sekali dijemput olehnya.
“Pa,
kenalkan teman baruku dan Mamanya. Mereka menemaniku menunggu Papa.” Aku menunjuk
ke arah John dan Mamanya.
“My name is Rhensu, I don’t know what happened if you’re not here with my child. (aku
tidak tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak disini).” Papa menyalami John
dan Mamanya. “Maybe, we can lunch
together. As a thank you (mungkin, kita bisa makansiang bersama. Sebagai ucapan
terima kasih).”
“My name is Murphy and my son John. I’m so excited
to do but I have to come back to the office (Saya sangat tertarik, tapi
sepertinya saya harus kembali ke kantor).” Jawab Mama John.
“Mom, I have to learning Indonesian language
with Eva (Aku harus belajar bahasa Indonesia).” John merengek.
“Maybe tomorrow (mungkin besok), John.” Mama
John tetap pergi dan mennggandeng John masuk ke dalam angkutan umum yang
tersedia tidak jauh dari sekolah. Meninggalkanku dan Papa yang masih berdiri
tegak, belum mengerti.
***
“Va…
hei….” John menggerak – gerakkan tangannya di depan mataku.
“John,
sejak kapan kamu disitu?” Tanyaku kaget.
“Sejak
melihat mulutmu terbuka lebar dan pandanganmu kosong.” John tertawa lebar.
“Kamu
selalu saja usil.” Aku menyandarkan tubuhku di meja belajarku.
John
masih tetap duduk di ranjangku dan menatapku. “Apa kamu tidak bosan, sepanjang
hidupmu hanya belajar dan belajar.” Kata John dengan nada mengejek.
“John,
kamu tidak ingat tujuanmu belajar Bahasa Indonesia adalah untuk mencari Papamu?”
Tanyaku tiba – tiba. Aku tidak tahu kenapa aku menanyakan hal ini. John samasekali
tidak pernah menyinggung soal ini sebelumnya. Tapi aku tidak mampu lagi menahan
rasa penasaranku.
“Aku
tidak perlu mencari Dad, karena aku sudah memiliki Papa yang jauh lebih baik.” Jawab
John. Papa menikahi Mama John setahun setelah kami berteman.
“Oh,
aku senang karena kamu menganggap Papa adalah Papamu juga. Tapi kenapa kamu
tidak melanjutkan kuliahmu?” Tanyaku lagi.
“Aku
masih fokus dengan bandku.” Jawab John. Papa memang tidak pernah memaksa John
untuk berprestasi, tapi Papa hanya berharap John untuk menyelesaikan kuliahnya
dan menjadi laki – laki yang dapat diandalkan.
“Eva,
John makan malam sudah siap.“ Teriak Mama John yang sekarang menjadi Mamaku
juga. Terkadang aku senang Papa menikahi Mama John, dengan begitu aku dapat
terus bersama John. Tapi aku juga harus menerima kenyataan bahwa aku dan John,
mungkin tidak akan pernah bersatu. Aku selalu takut bila lama menatapnya, aku
takut John akan menertawaiku jika mengetahui perasaanku yang sebenarnya
padanya.
***
“John….”
Aku berteriak ketika melihat John melambaikan tangan. Segera aku masuk ke dalam
mobil.
“Ada
apa?” John terkejut melihat nafasku yang tidak beraturan.
“Aku
akan melanjutkan magisterku di New Castle Universities.” Aku bersorak
kegirangan.
“Australia?
Kamu diterima kuliah disana?” John mencibir.
“Lihat
ini.” Aku menunjukkan surat resmi penerimaan mahasiswa transfer jurusan Business
Management.
“Oh my God.” John membolak – balik surat
itu. “Bagaimana bisa?” Tanyanya lagi.
“I don’t know.” Jawabku santai dengan
senyum kemenangan yang tersungging di sudut bibirku. Aku sudah bisa
membayangkan pengalaman baru yang akan kudapatkan disana.
“Apa
kamu senang?” Tanya John.
“Tentu
saja.” Jawabku, masih belum mengerti apa maksud dari perkataan John.
“Baiklah,
traktir makan siang.” John mulai menyalakan musik kesukaannya Iris dari Goo Goo
Dolls sembari menyetir untuk sesekali menyanyi dan menganggukkan kepala
mengikuti ritme. “And I don’t want the
world to see me, cause I don’t think that they‘d understand.” Suara John
memang bagus.
“When everything’s made to be broken. I just
want you to know who I’m.” Aku melanjutkan potongan lirik berikutnya. Sejak
kecil kami memang selalu melakukan hal ini sambung menyambung lirik dan selera musik
kami memang tidak jauh berbeda. Jika aku bisa memilih. Aku ingin tetap disini
bersama John. Aku hanya ingin bersamanya walaupun aku tahu tidak akan pernah
bisa memilikinya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar