Plak…
suara tamparan yang cukup keras mendera pipiku. Aku masih belum mengerti akan
kejadian yang baru saja kualami di pagi hari seperti ini. “Kau memang istri
yang tidak berguna.” Teriakan Brent semakin menjadi – jadi disertai pecahan barang
yang dilempar bertubi, mengiris hatiku. Aku sudah melihat pemandangan ini
setiap hari, dua bulan terakhir tentunya. Brent tidak pernah tidur di rumah dan
selalu pulang dalam keadaan mabuk. Kami baru menikah tiga bulan, namun
penyesalanku karena memilihnya menjadi suamiku mungkin akan kuingat seumur
hidupku.
Brent
masih belum menghentikan amarahnya. Kali ini Brent menghampiriku perlahan
membelai wajahku, kakiku mulai bergetar dan kehilangan keseimbangan karena
takut. Aku terjerembab jatuh dan hanya bisa menangis, kini aku berlutut tanpa
berkata apapun kepadanya seperti sedang meminta belas kasihan. “Sayang, kau
menangis?” Tanya Brent yang wajahnya tiba – tiba sudah berada tepat di depan
wajahku, dari nafasnya tercium aroma alkohol. Aku tetap diam dan tidak mengerti
apa yang harus kuperbuat saat ini. Brent mencium bibirku dengan sangat kasar
lalu menjatuhkanku ke lantai dan melucuti pakaianku. Aku memang mencintainya,
sangat mencintainya. Aku memang merindukannya akhir – akhir ini, sangat
merindukan Brent yang kukenal. Tapi aku benci dengan sikapnya yang sangat kasar
dan selalu memperlakukanku seperti binatang peliharaan, bukan istri.
Aku
teringat saat kami berpacaran, tidak pernah sekalipun Brent memukulku. Brent
memang sangat pemalu dan tidak suka bila kuajak bergabung dengan teman – teman
kerjaku. Aku memahaminya karena pergaulan Brent tidak terlalu luas. Brent
memiliki bengkel mobil, jadi setiap hari hanya berkutat dengan mesin dan
tamunya kebanyakan para pria. Jauh berbeda denganku yang seorang karyawati yang
selalu bekerja dari pagi hingga malam. Brent juga sering cemburu buta jika
melihatku akrab dengan teman kantorku yang pria, walau hanya dari foto.
Terkadang hal itu membuatku tidak habis pikir, namun aku mengacuhkannya. Setiap
kali aku mendapatkan gajiku selalu kugunakan untuk membeli perabotan rumah
hingga lengkap, semua itu sudah kulalukan sejak kami berpacaran dulu. Aku tidak
pernah memperhitungkan semua itu, karena setiap hari aku tetap mendapat bagian
dari penghasilan bengkel.
“Sayang,
aku lapar.” Brent membuyarkan ingatan masa laluku, rupanya dia sudah selesai
menuntaskan keinginannya.
“Ayo
kita sarapan, aku sudah memasak makanan spesial untukmu.” Aku berusaha tenang
seperti tidak ada sesuatu hal yang terjadi. Untung saja aku selalu memasak dini
hari, karena setelah ini aku harus bersiap pergi ke kantor, dan aku tidak ingin
terlambat lagi.
Brent
melahap dengan cepat makanan yang kusediakan. Sesekali aku bisa melihat Brent
tersenyum tulus kepadaku, senyum yang selalu kurindukan. Tentu saja dengan senang
hati aku membalas senyumnya sambil memperhatikan Brent menghabiskan makanannya.
“Masakanmu memang enak, Samantha.” Celetuknya.
“Terimakasih,
sayang.” Jawabku.
***
Aku
masih duduk di cermin, menyamarkan bekas lebam di wajah dan badanku yang
mungkin dapat terlihat orang lain. Aku tidak ingin siapapun tahu bahwa suami
yang kubanggakan adalah sosok pria yang mungkin memiliki kepribadian ganda. Aku
belum berani mengambil kesimpulan, Brent memang bisa sangat kasar dan bisa
berubah menjadi sangat lembut dalam rentang waktu yang tidak lama. Itu cukup
membuatku takut, namun aku mencintainya. “Apa hari ini kau bisa tinggal dirumah
bersama suamimu ini?” Tanya Brent seraya duduk disampingku, bersandar di
pundakku seperti anak kecil.
“Aku
harus bekerja Brent, tunggulah sampai aku pulang, lagipula kau juga harus
menyambut pelanggan bengkelmu.” Aku meraba pipi Brent dengan penuh kelembutan
dan bersenandung lirih lagu kesukaannya, tanpa kusadari sekarang Brent sudah
tidur dalam pelukanku. Tidak ingin membuang waktu, kugendong Brent ke tempat
tidur. Jarak antara meja rias dan tempat tidur memang tidak terlalu jauh,
apalagi aku sudah sering menggendongnya jika Brent Pulang dalam keadaan pingsan
karena mabuk berat. Segera kutinggalkan surat agar Brent tidak terkejut kettika
bangun nanti dan sebelum pergi ke kantor kupastikan bahwa Brent tidak akan
kekurangan makanan saat kutinggalkan bekerja.
***
“Sam.”
Brent memelukku dari belakang, membuatku terkejut.
“Brent.”
Kubuat suaraku agar tidak terdengar bergetar dan kubalikkan badanku menghadap
ke arah Brent.
“Sudah
kubilang jangan pergi, kenapa kau tetap pergi? Wanita jalang.” Brent
menamparku, entah untuk keberapa kalinya.
Dadaku
berdesir bergerak tanpa aturan, darahku seakan mengalir lebih deras. Aku tidak
pernah seperti ini sebelumnya, namun aku sudah tidak lagi dapat menahan rasa
sakit ini. Aku balik menampar Brent sekuat tenagaku. “Ceraikan aku, aku sudah
lelah dengan omong kosong ini.”
“Apa
kau bilang?” Tatapan Brent semakin menjadi namun aku tidak gentar dan menatap
ke dalam matanya lebih tajam. Aku ingin Brent tahu betapa aku menderita
dibuatnya selama ini.
“Biarkan
aku pergi.” Aku berlari menuju kamar dan mengemasi barangku sekenanya.
“Sam…
Samantha… dengarkan aku… sayang….” Aku tidak peduli dengan teriakannya, saat
ini yang kuinginkan hanya ketenangan. Aku benci dengan takdirku dan untuk
pertama kalinya dalam hidupku, aku membenci pilihanku sendiri. Aku terus
berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobilku tanpa ingin mendengarkan
rengekan Brent. Aku tidak ingin menjadi kasihan padanya seperti yang selalu
terjadi sebelumnya. Brent terus mencoba menghubungiku, itu semua mengganggu
konsentrasiku dalam menyetir. Kupinggirkan mobilku ke tepi jalanan yang masih
agak ramai untuk mematikan ponselku dan menghirup udara luar dari jendela
mobil. Perlahan ketenangan mulai menyelimuti malam yang dingin ini. Terasa
angin dingin menjalar dari kepala hingga ke seluruh tubuhku. Sekarang aku tidak
peduli bila harus menjadi janda, aku sudah cukup hidup menderita dengan monster
itu.
***
Dering
ponselku membangunkanku, ternyata aku tidur di dalam mobil semalaman.
“Samantha, kau dimana?” Tanya Brent dnegan nada panik.
“Kau
tidak perlu menghawatirkanku, urus saja hidupmu sendiri.” Jawabku ketus.
“Sam,
kau tidak mengerti betapa berartinya dirimu bagiku. Aku hanya cemburu jika
melihatmu dekat dengan teman kerjamu, Louis, Owen, Folland dan teman – teman
yang sering kau ceritakan itu. Aku selalu memikirkan itu sepanjang hari hingga
membuatku hampir gila.” Kata Brent, ucapannya terdengar jujur dan tulus
membuatku hampir terlena.
“Tetap
saja kau harusnya percaya pada istrimu.” Aku masih mencoba bersikap keras.
“Pulanglah,
aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi.” Brent memelas.
“Aku
harus bekerja.” Aku mematikan ponselku dan menyalakan mesin mobil untuk
kemudian pergi menuju kantorku yang tidak terlalu jauh. Aku tidak langsung
menuju kantor, mobilku kuparkir di depan rumah sahabatku karena berniat ingin
mandi.
“Sam…,”
Sabrina tampak kaget melihat penampilanku yang masih mengenakan kemeja yang
kemarin kugunakan untuk bekerja.
“Aku
pergi dari rumah, bolehkah aku menumpang mandi?” Tanyaku.
“Tentu
saja, silahkan masuk.” Sabrina mempersilahkanku masuk dan aku langsung menuju
kamar mandinya. Aku sudah beberapa kali main dan menginap di rumah ini sebelum
menikah, karena Sabrina tinggal sendiri.
“Sam,
ayo sarapan dulu.” Sabrina menyambutku saat keluar dari kamar mandi.
“Tidak
usah repot, Sabrina.” Jawabku.
“Aku
tahu kau memiliki masalah, walaupun kau mungkin belum ingin membicarakannya
kepada orang lain. Tapi Sam, kau tidak boleh menelantarkan kesehatanmu.” Sabrina
memegang pundakku.
“Terimakasih
Sabrina, aku tidak tahu bagaimana nasibku bila tidak memiliki sahabat
sepertimu.” Aku memeluk Sabrina dan tidak kuasa menahan air mata yang terus
mengalir. Kurasakan tangan Sabrina membelai lembut punggungku, terasa nyaman
bagaikan pelukkan seorang ibu.
***
Aku
merasa tidak tenang seharian ini, pekerjaanku kacau, pikiranku terpusat pada Brent.
Kukendalikan setir menuju rumah, dan kuparkir mobil diluar pagar karena melihat
ada sebuah mobil yang terparkir di dalamnya. Perlahan kulangkahkan kakiku masuk
ke dalam rumahku. Brent tidak biasanya lupa mengunci pintu, namun kali ini
pintu ruang tamu dibiarkan terbuka. Aku semakin penasaran dan dibuat terkejut
saat mengetahui seorang wanita berambut pirang sedang terlelap disamping Brent.
Aku hampir kalang kabut dibuatnya. Kukerahkan sisa – sisa tenaga yang kupunya,
dan aku semakin yakin dengan keputusan yang kubuat. Aku memang harus
meninggalkan pria yang masih sangat kucintai ini. Aku berusaha tenang, mengambil
beberapa pakaian dan barang – barang yang dapat kubawa. Dengan sekuat tenaga
aku menahan diri untuk tidak menangis dan berlari menuju mobilku.
***
Brent
masih terus mencoba menghubungiku setiap hari, namun aku tidak pernah
memperdulikannya. Sabrina masih terus menampungku dirumahnya, mendengarkan
celotehanku. Aku bertekad hanya akan bicara padanya saat persidangan. Semua dokumen
sudah kulengkapi, hanya tinggal menunggu Brent menerima dokumen panggilan
persidangan. “Sam,” kurasakan ada tangan yang menarikku dari belakang saat aku
berjalan di lobby kantorku.
“Brent.”
Aku nyaris berteriak karena terkejut.
“Sayang,
aku tidak ingin bercerai denganmu.” Brent memelukku.
“Aku
tidak bisa.” Jawabku.
“Kalau
begitu, kebalikan kalung dan cincinku.” Brent mencoba mengambil paksa kalung
yang merupakan hadiah ulang tahunku dan cincin pernikahan kami.
Dengan tanpa
berbicara kulepaskan semua perhiasan itu dan kuberikan padanya. “Aku tidak
butuh semua itu, dan aku harap kau hadir ada persidangan pertama minggu depan.”
Aku melenggang pergi menuju ruang kerjaku meninggalkan Brent yang tidak
bergerak.
***
Persidangan
pertama yang berisi agenda mediasi berjalan cukup alot, Brent banyak memutar balikan
fakta dan seolah membuatku menjadi pusat kesalahan. Aku hampir kalah karena
tidak memiliki bukti. Ibu dan Kakak Brent cukup lihai dalam membantu Brent. “Sam….”
Brent menghampiriku seusai persidangan berakhir.
Aku
tidak bergeming dari tepatku duduk karena masih memikirkan betapa kejam
keluarga Brent memojokkannku. “Samantha.” Brent sedikit berteriak. “Kau ingin
kita segera bercerai, kan?” Tanya Brent. “Kusarankan agar kau tidak datang ke
persidangan kedua.” Pungkas Brent.
“Agar?”
Tanyaku dengan nada menantang, Brent masih belum menjawab. “Agar kau dengan
leluasa memfitnahku?” Tanyaku lagi.
“Aku
mengatakan yang sejujurnya, kau yang memfitnahku.” Jawab Brent santai.
“Kau
memang tidak akan berubah, selamanyapun akan seperti itu.” Aku bangun dari
tempat dudukku dan berlari pergi meninggalkannya.
“Sam,
kau akan menyesal meninggalkanku.” Brent masih berteriak.
Kupercepat
laju mobilku melewati jalanan siang hari yang cukup lenggang. Aku menyegerakan
perjlanananku agar cepat sampai di rumah sebelum Brent dan keluarganya datang. Sesampainya
dirumah, aku benar – benar seperti orang kesetanan, mengambil televisi, laptop,
mesin cuci, lemari pendingin dan barang – barang yang kubeli dengan uangku. Semua
sudah siap diangkut oleh pick up yang kusewa. “Sedang apa kalian.” Teriak
Brent.
“Aku
hanya mengambil barang yang kubeli dnegan hasil keringatku.” Jawabku.
“Kau
tidak bisa seenaknya mengambil dan mengakui bahwa semua ini milikmu.” Teriak Ibu
Brent.
“Ini
semua memang aku yang membeli, aku pemilik sertifikat resminya.” Jawabku sambil
mengarahkan agar pick up segera berangkat menuju rumah Sabrina dan aku
menyusulnya dengan bangga, meninggalkan Brent dan keluarganya yang masih
tercengang.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar