Translate

Minggu, 18 Desember 2016

Tanya Hati.

Berakhir.

Apa?

Semuanya sudah berakhir.

Mungkinkah ini mimpi?

Bukan.

Apa yang membuatnya berakhir?

Kau, sikapmu.

Mungkinkah?

Tentu saja.

Bahkan aku belum memulai apapun?

Namun semua sudah berakhir.

Apa yang harus kuperbuat?

Tidak ada.

Adakah satu kesempatan lagi?

Sudah banyak yang kaubuang sia -sia disana.

Tapi???

Enyahlah.

Dapatkah aku melihat wajah itu lagi?

Tidak.

Malang sekali, bahkan aku tidak lagi bisa melihat wajah itu. Haruskah aku pergi membawa hati ini? Merana hingga jiwa ini lepas dari raga?

Itulah yang sudah terjadi padanya.

Benarkah dia memiliki rasa yang sama denganku?

Bodoh sekali kau.

Ini semua menyiksaku?

Juga menyiksanya.

Lalu apa yang harus kulakukan?

Jangan bertanya lagi.

Kamis, 08 Desember 2016

Aku Ini Bukan Monster.

Aku tidak tahu apakah aku masih dapat tertawa bahagia
Bahkan untuk sekedar tersenyumpun aku tidak yakin bisa

Bodoh sekali
Kenapa kau masih mendengar kata - kata sampah?
Kenapa kau masih belum bisa menutup telingamu rapat?
Dia, mereka semua hanya mengatakan apa yang mereka pikirkan
Bukan hal yang sebenarnya terjadi
Dia, mereka hanya memberikan pandangan sesuai yang mereka anggap benar
Berpikirlah... bangunlah...
Wahai hati yang kosong
Kau hanya harus bangun dan menjadi dirimu sendiri
Larilah dan berteriaklah
Lepaskan batu besar yang menghimpit dadamu
Bagaikan gunung yang menyemburkan api
Bagaikan hujan yang menumpahkan air
Bagaikan laut lepas yang membuang harapan beserta ombak

Tapi, apa aku bisa?
Hey diamlah wahai hati
Apa selama ini kau tak melihat, aku sudah mencoba
Apa dalam pandanganmu, aku masih belun bertumbuh

Kau belum bertumbuh, kau hanya berpura - pura
Apa salahnya menangis di depan orang lain?
Kau tidak harus peduli apakah dia mengerti
Karena dia memang tidak akan pernah mengerti

Aku... aku... aku takut
Aku merasa hina
Aku takut bila ditinggalkan
Dan aku takut dengan penilaiannya
Satu persatu hilang
Hancur...
Tiada lagi harapan
Bahkan, kejahatan yang paling kejam adalam ketidakpercayaan
Ya... dia sudah tidak percaya padaku
Aku ini tiada arti
Hal yang mungkin mengancamnya
Membuatnya ketakutan
Hei... kau hanya harus dengar
Aku ini bukan monster

Cerita Pendek - The Confines (Pengekangan)



                Plak… suara tamparan yang cukup keras mendera pipiku. Aku masih belum mengerti akan kejadian yang baru saja kualami di pagi hari seperti ini. “Kau memang istri yang tidak berguna.” Teriakan Brent semakin menjadi – jadi disertai pecahan barang yang dilempar bertubi, mengiris hatiku. Aku sudah melihat pemandangan ini setiap hari, dua bulan terakhir tentunya. Brent tidak pernah tidur di rumah dan selalu pulang dalam keadaan mabuk. Kami baru menikah tiga bulan, namun penyesalanku karena memilihnya menjadi suamiku mungkin akan kuingat seumur hidupku.
                Brent masih belum menghentikan amarahnya. Kali ini Brent menghampiriku perlahan membelai wajahku, kakiku mulai bergetar dan kehilangan keseimbangan karena takut. Aku terjerembab jatuh dan hanya bisa menangis, kini aku berlutut tanpa berkata apapun kepadanya seperti sedang meminta belas kasihan. “Sayang, kau menangis?” Tanya Brent yang wajahnya tiba – tiba sudah berada tepat di depan wajahku, dari nafasnya tercium aroma alkohol. Aku tetap diam dan tidak mengerti apa yang harus kuperbuat saat ini. Brent mencium bibirku dengan sangat kasar lalu menjatuhkanku ke lantai dan melucuti pakaianku. Aku memang mencintainya, sangat mencintainya. Aku memang merindukannya akhir – akhir ini, sangat merindukan Brent yang kukenal. Tapi aku benci dengan sikapnya yang sangat kasar dan selalu memperlakukanku seperti binatang peliharaan, bukan istri.
                Aku teringat saat kami berpacaran, tidak pernah sekalipun Brent memukulku. Brent memang sangat pemalu dan tidak suka bila kuajak bergabung dengan teman – teman kerjaku. Aku memahaminya karena pergaulan Brent tidak terlalu luas. Brent memiliki bengkel mobil, jadi setiap hari hanya berkutat dengan mesin dan tamunya kebanyakan para pria. Jauh berbeda denganku yang seorang karyawati yang selalu bekerja dari pagi hingga malam. Brent juga sering cemburu buta jika melihatku akrab dengan teman kantorku yang pria, walau hanya dari foto. Terkadang hal itu membuatku tidak habis pikir, namun aku mengacuhkannya. Setiap kali aku mendapatkan gajiku selalu kugunakan untuk membeli perabotan rumah hingga lengkap, semua itu sudah kulalukan sejak kami berpacaran dulu. Aku tidak pernah memperhitungkan semua itu, karena setiap hari aku tetap mendapat bagian dari penghasilan bengkel.
                “Sayang, aku lapar.” Brent membuyarkan ingatan masa laluku, rupanya dia sudah selesai menuntaskan keinginannya.
                “Ayo kita sarapan, aku sudah memasak makanan spesial untukmu.” Aku berusaha tenang seperti tidak ada sesuatu hal yang terjadi. Untung saja aku selalu memasak dini hari, karena setelah ini aku harus bersiap pergi ke kantor, dan aku tidak ingin terlambat lagi.
                Brent melahap dengan cepat makanan yang kusediakan. Sesekali aku bisa melihat Brent tersenyum tulus kepadaku, senyum yang selalu kurindukan. Tentu saja dengan senang hati aku membalas senyumnya sambil memperhatikan Brent menghabiskan makanannya. “Masakanmu memang enak, Samantha.” Celetuknya.
                “Terimakasih, sayang.” Jawabku.
***
                Aku masih duduk di cermin, menyamarkan bekas lebam di wajah dan badanku yang mungkin dapat terlihat orang lain. Aku tidak ingin siapapun tahu bahwa suami yang kubanggakan adalah sosok pria yang mungkin memiliki kepribadian ganda. Aku belum berani mengambil kesimpulan, Brent memang bisa sangat kasar dan bisa berubah menjadi sangat lembut dalam rentang waktu yang tidak lama. Itu cukup membuatku takut, namun aku mencintainya. “Apa hari ini kau bisa tinggal dirumah bersama suamimu ini?” Tanya Brent seraya duduk disampingku, bersandar di pundakku seperti anak kecil.
                “Aku harus bekerja Brent, tunggulah sampai aku pulang, lagipula kau juga harus menyambut pelanggan bengkelmu.” Aku meraba pipi Brent dengan penuh kelembutan dan bersenandung lirih lagu kesukaannya, tanpa kusadari sekarang Brent sudah tidur dalam pelukanku. Tidak ingin membuang waktu, kugendong Brent ke tempat tidur. Jarak antara meja rias dan tempat tidur memang tidak terlalu jauh, apalagi aku sudah sering menggendongnya jika Brent Pulang dalam keadaan pingsan karena mabuk berat. Segera kutinggalkan surat agar Brent tidak terkejut kettika bangun nanti dan sebelum pergi ke kantor kupastikan bahwa Brent tidak akan kekurangan makanan saat kutinggalkan bekerja.
***
                “Sam.” Brent memelukku dari belakang, membuatku terkejut.
                “Brent.” Kubuat suaraku agar tidak terdengar bergetar dan kubalikkan badanku menghadap ke arah Brent.
                “Sudah kubilang jangan pergi, kenapa kau tetap pergi? Wanita jalang.” Brent menamparku, entah untuk keberapa kalinya.
                Dadaku berdesir bergerak tanpa aturan, darahku seakan mengalir lebih deras. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, namun aku sudah tidak lagi dapat menahan rasa sakit ini. Aku balik menampar Brent sekuat tenagaku. “Ceraikan aku, aku sudah lelah dengan omong kosong ini.”
                “Apa kau bilang?” Tatapan Brent semakin menjadi namun aku tidak gentar dan menatap ke dalam matanya lebih tajam. Aku ingin Brent tahu betapa aku menderita dibuatnya selama ini.
                “Biarkan aku pergi.” Aku berlari menuju kamar dan mengemasi barangku sekenanya.
                “Sam… Samantha… dengarkan aku… sayang….” Aku tidak peduli dengan teriakannya, saat ini yang kuinginkan hanya ketenangan. Aku benci dengan takdirku dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membenci pilihanku sendiri. Aku terus berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobilku tanpa ingin mendengarkan rengekan Brent. Aku tidak ingin menjadi kasihan padanya seperti yang selalu terjadi sebelumnya. Brent terus mencoba menghubungiku, itu semua mengganggu konsentrasiku dalam menyetir. Kupinggirkan mobilku ke tepi jalanan yang masih agak ramai untuk mematikan ponselku dan menghirup udara luar dari jendela mobil. Perlahan ketenangan mulai menyelimuti malam yang dingin ini. Terasa angin dingin menjalar dari kepala hingga ke seluruh tubuhku. Sekarang aku tidak peduli bila harus menjadi janda, aku sudah cukup hidup menderita dengan monster itu.
***
                Dering ponselku membangunkanku, ternyata aku tidur di dalam mobil semalaman. “Samantha, kau dimana?” Tanya Brent dnegan nada panik.
                “Kau tidak perlu menghawatirkanku, urus saja hidupmu sendiri.” Jawabku ketus.
                “Sam, kau tidak mengerti betapa berartinya dirimu bagiku. Aku hanya cemburu jika melihatmu dekat dengan teman kerjamu, Louis, Owen, Folland dan teman – teman yang sering kau ceritakan itu. Aku selalu memikirkan itu sepanjang hari hingga membuatku hampir gila.” Kata Brent, ucapannya terdengar jujur dan tulus membuatku hampir terlena.
                “Tetap saja kau harusnya percaya pada istrimu.” Aku masih mencoba bersikap keras.
                “Pulanglah, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi.” Brent memelas.
                “Aku harus bekerja.” Aku mematikan ponselku dan menyalakan mesin mobil untuk kemudian pergi menuju kantorku yang tidak terlalu jauh. Aku tidak langsung menuju kantor, mobilku kuparkir di depan rumah sahabatku karena berniat ingin mandi.
                “Sam…,” Sabrina tampak kaget melihat penampilanku yang masih mengenakan kemeja yang kemarin kugunakan untuk bekerja.
                “Aku pergi dari rumah, bolehkah aku menumpang mandi?” Tanyaku.
                “Tentu saja, silahkan masuk.” Sabrina mempersilahkanku masuk dan aku langsung menuju kamar mandinya. Aku sudah beberapa kali main dan menginap di rumah ini sebelum menikah, karena Sabrina tinggal sendiri.
                “Sam, ayo sarapan dulu.” Sabrina menyambutku saat keluar dari kamar mandi.
                “Tidak usah repot, Sabrina.” Jawabku.
                “Aku tahu kau memiliki masalah, walaupun kau mungkin belum ingin membicarakannya kepada orang lain. Tapi Sam, kau tidak boleh menelantarkan kesehatanmu.” Sabrina memegang pundakku.
                “Terimakasih Sabrina, aku tidak tahu bagaimana nasibku bila tidak memiliki sahabat sepertimu.” Aku memeluk Sabrina dan tidak kuasa menahan air mata yang terus mengalir. Kurasakan tangan Sabrina membelai lembut punggungku, terasa nyaman bagaikan pelukkan seorang ibu.
***
                Aku merasa tidak tenang seharian ini, pekerjaanku kacau, pikiranku terpusat pada Brent. Kukendalikan setir menuju rumah, dan kuparkir mobil diluar pagar karena melihat ada sebuah mobil yang terparkir di dalamnya. Perlahan kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumahku. Brent tidak biasanya lupa mengunci pintu, namun kali ini pintu ruang tamu dibiarkan terbuka. Aku semakin penasaran dan dibuat terkejut saat mengetahui seorang wanita berambut pirang sedang terlelap disamping Brent. Aku hampir kalang kabut dibuatnya. Kukerahkan sisa – sisa tenaga yang kupunya, dan aku semakin yakin dengan keputusan yang kubuat. Aku memang harus meninggalkan pria yang masih sangat kucintai ini. Aku berusaha tenang, mengambil beberapa pakaian dan barang – barang yang dapat kubawa. Dengan sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak menangis dan berlari menuju mobilku.
***
                Brent masih terus mencoba menghubungiku setiap hari, namun aku tidak pernah memperdulikannya. Sabrina masih terus menampungku dirumahnya, mendengarkan celotehanku. Aku bertekad hanya akan bicara padanya saat persidangan. Semua dokumen sudah kulengkapi, hanya tinggal menunggu Brent menerima dokumen panggilan persidangan. “Sam,” kurasakan ada tangan yang menarikku dari belakang saat aku berjalan di lobby kantorku.
                “Brent.” Aku nyaris berteriak karena terkejut.
                “Sayang, aku tidak ingin bercerai denganmu.” Brent memelukku.
                “Aku tidak bisa.” Jawabku.
                “Kalau begitu, kebalikan kalung dan cincinku.” Brent mencoba mengambil paksa kalung yang merupakan hadiah ulang tahunku dan cincin pernikahan kami.
Dengan tanpa berbicara kulepaskan semua perhiasan itu dan kuberikan padanya. “Aku tidak butuh semua itu, dan aku harap kau hadir ada persidangan pertama minggu depan.” Aku melenggang pergi menuju ruang kerjaku meninggalkan Brent yang tidak bergerak.
***
                Persidangan pertama yang berisi agenda mediasi berjalan cukup alot, Brent banyak memutar balikan fakta dan seolah membuatku menjadi pusat kesalahan. Aku hampir kalah karena tidak memiliki bukti. Ibu dan Kakak Brent cukup lihai dalam membantu Brent. “Sam….” Brent menghampiriku seusai persidangan berakhir.
                Aku tidak bergeming dari tepatku duduk karena masih memikirkan betapa kejam keluarga Brent memojokkannku. “Samantha.” Brent sedikit berteriak. “Kau ingin kita segera bercerai, kan?” Tanya Brent. “Kusarankan agar kau tidak datang ke persidangan kedua.” Pungkas Brent.
                “Agar?” Tanyaku dengan nada menantang, Brent masih belum menjawab. “Agar kau dengan leluasa memfitnahku?” Tanyaku lagi.
                “Aku mengatakan yang sejujurnya, kau yang memfitnahku.” Jawab Brent santai.
                “Kau memang tidak akan berubah, selamanyapun akan seperti itu.” Aku bangun dari tempat dudukku dan berlari pergi meninggalkannya.
                “Sam, kau akan menyesal meninggalkanku.” Brent masih berteriak.
          Kupercepat laju mobilku melewati jalanan siang hari yang cukup lenggang. Aku menyegerakan perjlanananku agar cepat sampai di rumah sebelum Brent dan keluarganya datang. Sesampainya dirumah, aku benar – benar seperti orang kesetanan, mengambil televisi, laptop, mesin cuci, lemari pendingin dan barang – barang yang kubeli dengan uangku. Semua sudah siap diangkut oleh pick up yang kusewa. “Sedang apa kalian.” Teriak Brent.
                “Aku hanya mengambil barang yang kubeli dnegan hasil keringatku.” Jawabku.
                “Kau tidak bisa seenaknya mengambil dan mengakui bahwa semua ini milikmu.” Teriak Ibu Brent.
                “Ini semua memang aku yang membeli, aku pemilik sertifikat resminya.” Jawabku sambil mengarahkan agar pick up segera berangkat menuju rumah Sabrina dan aku menyusulnya dengan bangga, meninggalkan Brent dan keluarganya yang masih tercengang.
***

Jumat, 25 November 2016

Cerita Pendek - The Little Piece of ...



                Ingatanku kembali ke masa lalu, kenangan yang tidak mungin kulupakan sampai kapanpun. Saat itu usiaku masih delapan tahun, aku duduk di kelas dua sekolah dasar. Anak itu memasuki ke kelasku, wajahnya sangat mengerikan, matanya melotot, aku yakin pasti dia anak nakal. “John, please introduce yourself to your new classmate. (John, silahkan perkenalkan diri kepada teman barumu)” Mrs. Nuri, guru favoritku tersenyum manis kepada anak itu, namun anak laki – laki itu tidak bergeming. “John…, do you hear me (apa kamu mendengar perkataan saya)?” Mrs Nuri kembali bertanya, anak laki – laki itu menoleh.
                I don’t want to be here, the hot weather, the freak people and language. (Aku tidak ingin berada disini, cuacanya panas, orang dan bahasanya aneh)” Anak laki – laki itu berteriak. Aku dengar beberapa siswa di sekitarku tampak sebal dan membicarakan anak laki – laki itu. Aku memang bersekolah di sekolah internasional, banyak diantara siswa disini tidak lancar berbahasa Indonesia, karena terbiasa menggunakan bahasa asli di rumahnya.
                John, you just don’t know yet, you will found a many good friends. We going to playing and studying together (kamu hanya belum tahu, kamu akan memiiki banyak teman yang baik disini. Kita bermain dan belajar bersama).” Mrs. Nuri masih mencoba ramah kepada anak itu, tapi dia tetap diam. Akhirnya Mrs. Nuri berhenti membujuknya dan menghadap ke arah kami.
                Ok class, we have a new friend, his name is Benjamin Johnson, coming from New Brunswick, Canada. He is a timid boy. Perhaps, you can ask him later (Baik murid – murid, kita memiliki teman baru, datang dari New Brunswick, Canada. Dia sangat pemalu. Mungkin, kalian bisa bertanya padanya nanti.).” Mrs. Nuri berseloroh dengan nada bercanda dan wajah yang tetap riang. Aku sangat suka padanya. Mrs. Nuri sederhana dan tidak pernah membeda – bedakan kami walaupun kami memiliki ras yang berbeda – beda dan datang dari belahan bumi yang berbeda pula.
                Mrs. Nuri mengajak John untuk duduk di bangku kosong. “I don’t want to sit beside a brat, Mrs. (aku tidak ingin duduk disamping anak nakal).” Kata Patrick, dia satu – satunya anak di kelas ini yang duduk sendiri dan tidak ada bangku lain yang kosong. Hal ini tidak membuat Mrs. Nuri gentar. Mrs Nuri malah mengajak kami bermain games berhitung dengan membagikan kertas kepada kami semua. Kami dipanggil berdasarkan nomor urut dan sialnya aku harus duduk dengan anak nakal itu.
                Hi, my name is Eva.” Aku mencoba ramah padanya.
                I’m John.” Dia balas menyalamiku.
                Sejenak kami hanya diam, aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan dengannya. “I lose my pencil, do you have (Aku kehilangan pensilku, bisa meminjamiku)?” Tanya John padaku disela jam pelajaran.
                Yeah.” Jawabku sembari membuka kotak pensilku.
                Thank you.” Jawabnya. Aku bisa melihat wajah John yang keheranan. John pasti tidak suka dengan pensilku yang berwarna pink dengan tutup mickey mouse di atasnya. Tapi apa boleh buat, semua pensilku memang seperti itu.
***
                John, what are you doing here (apa yang sedang kamu lakukan disini)?” Tanyaku, karena jam pulang sekolah sudah usai dan aku juga sedang menunggu sopirku yang telat datang.
                I’m waiting for my Mom, and you (Aku sedang menunggu mamaku, dan kamu).” Jawabnya.
                I’m waiting for my driver, I called him Pak Paijo.” Jawabku.
Aku duduk disampingnya dan John mulai menatapku. “You can speak Indonesia?” Tanya John.
                “Ehem.” Aku mengangguk pelan.
                Teach me.” John menatapku. “Please.”
                Why?” Tanyaku.
                To found my Dad. He was disappear (untuk menemukan ayahku. Dia telah menghilang).” Jawabnya santai.
                John. Sorry for waiting, Mom so busy at the office (maaf telah menunggu, Mama sibuk di sekali kantor).” Tidak lama Mama John datang
                No problem, Mom. She is my friend, Eva.” John memperkenalkanku pada Mamanya dan aku menyalaminya. Aku sangat iri pada John, Mamanya rela datang menjemput padahal sedang bekerja. Sangat berbeda dengan Papa yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan yang terpenting, aku tidak yakin apakah aku pernah memilki Mama.
                “Eva, you have not picked up (kamu belum dijemput)?” Tanya Mama John.
                Aku hanya mengangguk pelan. Aku takut mereka pergi meninggalkanku. Aku belum pernah terlambat dijemput sebelumnya. “Sayang, maaf lama menunggu, tadi Paijo sakit makannya Papa yang menjemput.” Papa memelukku lalu menggendongku rasanya senang sekali dijemput olehnya.
                “Pa, kenalkan teman baruku dan Mamanya. Mereka menemaniku menunggu Papa.” Aku menunjuk ke arah John dan Mamanya.
                My name is Rhensu, I don’t know what happened if you’re not here with my child. (aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak disini).” Papa menyalami John dan Mamanya. “Maybe, we can lunch together. As a thank you (mungkin, kita bisa makansiang bersama. Sebagai ucapan terima kasih).”
                My name is Murphy and my son John. I’m so excited to do but I have to come back to the office (Saya sangat tertarik, tapi sepertinya saya harus kembali ke kantor).” Jawab Mama John.
                Mom, I have to learning Indonesian language with Eva (Aku harus belajar bahasa Indonesia).” John merengek.
                Maybe tomorrow (mungkin besok), John.” Mama John tetap pergi dan mennggandeng John masuk ke dalam angkutan umum yang tersedia tidak jauh dari sekolah. Meninggalkanku dan Papa yang masih berdiri tegak, belum mengerti.
***
                “Va… hei….” John menggerak – gerakkan tangannya di depan mataku.
                “John, sejak kapan kamu disitu?” Tanyaku kaget.
                “Sejak melihat mulutmu terbuka lebar dan pandanganmu kosong.” John tertawa lebar.
                “Kamu selalu saja usil.” Aku menyandarkan tubuhku di meja belajarku.
                John masih tetap duduk di ranjangku dan menatapku. “Apa kamu tidak bosan, sepanjang hidupmu hanya belajar dan belajar.” Kata John dengan nada mengejek.
                “John, kamu tidak ingat tujuanmu belajar Bahasa Indonesia adalah untuk mencari Papamu?” Tanyaku tiba – tiba. Aku tidak tahu kenapa aku menanyakan hal ini. John samasekali tidak pernah menyinggung soal ini sebelumnya. Tapi aku tidak mampu lagi menahan rasa penasaranku.
                “Aku tidak perlu mencari Dad, karena aku sudah memiliki Papa yang jauh lebih baik.” Jawab John. Papa menikahi Mama John setahun setelah kami berteman.
                “Oh, aku senang karena kamu menganggap Papa adalah Papamu juga. Tapi kenapa kamu tidak melanjutkan kuliahmu?” Tanyaku lagi.
                “Aku masih fokus dengan bandku.” Jawab John. Papa memang tidak pernah memaksa John untuk berprestasi, tapi Papa hanya berharap John untuk menyelesaikan kuliahnya dan menjadi laki – laki yang dapat diandalkan.
                “Eva, John makan malam sudah siap.“ Teriak Mama John yang sekarang menjadi Mamaku juga. Terkadang aku senang Papa menikahi Mama John, dengan begitu aku dapat terus bersama John. Tapi aku juga harus menerima kenyataan bahwa aku dan John, mungkin tidak akan pernah bersatu. Aku selalu takut bila lama menatapnya, aku takut John akan menertawaiku jika mengetahui perasaanku yang sebenarnya padanya.
***
                “John….” Aku berteriak ketika melihat John melambaikan tangan. Segera aku masuk ke dalam mobil.
                “Ada apa?” John terkejut melihat nafasku yang tidak beraturan.
                “Aku akan melanjutkan magisterku di New Castle Universities.” Aku bersorak kegirangan.
                “Australia? Kamu diterima kuliah disana?” John mencibir.
                “Lihat ini.” Aku menunjukkan surat resmi penerimaan mahasiswa transfer jurusan Business Management.
                Oh my God.” John membolak – balik surat itu. “Bagaimana bisa?” Tanyanya lagi.
                I don’t know.” Jawabku santai dengan senyum kemenangan yang tersungging di sudut bibirku. Aku sudah bisa membayangkan pengalaman baru yang akan kudapatkan disana.
                “Apa kamu senang?” Tanya John.
                “Tentu saja.” Jawabku, masih belum mengerti apa maksud dari perkataan John.
                “Baiklah, traktir makan siang.” John mulai menyalakan musik kesukaannya Iris dari Goo Goo Dolls sembari menyetir untuk sesekali menyanyi dan menganggukkan kepala mengikuti ritme. “And I don’t want the world to see me, cause I don’t think that they‘d understand.” Suara John memang bagus.
                When everything’s made to be broken. I just want you to know who I’m.” Aku melanjutkan potongan lirik berikutnya. Sejak kecil kami memang selalu melakukan hal ini sambung menyambung lirik dan selera musik kami memang tidak jauh berbeda. Jika aku bisa memilih. Aku ingin tetap disini bersama John. Aku hanya ingin bersamanya walaupun aku tahu tidak akan pernah bisa memilikinya.
***