Translate

Minggu, 01 Januari 2017

Short Story - Cerita Pendek - The Simplicity - I Love Your Smiling To Me



“Wyatt?” Aku menyapa teman satu flatku sesampainya di dapur.
“Oh… hai Cameron, aku sedang menunggu pastaku matang. Kau mau memanaskan makanan juga atau mau memasak?” Tanya Wyatt.
“Tidak Wyatt, aku hanya ingin minum.” Jawabku.
“Hei bro, kau tidak perlu diet hanya karena Laetitia mencampakanmu.” Wyatt memukul pundakku pelan, namun cukup membuatku tersedak.
“Aku tidak diet, hanya saja perutku masih kenyang.” Aku menoleh ke arah Wyatt yang sedang mengambil pasta dari microwave membuat perutku bergejolak. Aku muak dengan perasaan ini, sudah seminggu namun aku masih memikirkan Laetitia. Terutama kalimat terakhirnya, “Aku tidak mungkin berpacaran dengan pria bergelambir.”
“Cam, ini untukmu.” Wyatt menaruh separuh bagian pastanya di depanku.
“Sudah kubilang, aku belum lapar.” Sergahku.
“Kau tidak mendengar teriakan cacing di perutmu barusan?” Tanya Wyatt, dengan nada kesal.
Sebenarnya aku malu namun aku benar – benar belum bisa fokus menanggapi hal apapun. Aku sengaja meminta cuti karena kinerjaku akhir – akhir ini mengecewakan. Segera kulahap pasta tadi dan menghabiskannya seperti orang kelaparan. “Enak?” Tanya Wyatt, mengagetkan lamunanku.
“Iya.” Tanpa sadar makanan di depanku sudah ludes tak bersisa.
“Aku masih memiliki beberapa stok di lemari pendingin.” Wyatt menunjuk ke belakangku, kotak besar dan dingin favoritku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak membukanya.
“Tidak Wyatt, ini sudah cukup.” Aku memperingatkan.
“Cam, aku serius. Laetitia hanya mencari alasan untuk kabur dengan pria itu.” Wyatt semakin terbawa emosi.
“Selamat pagi.” Suara Dorothea menghentikan perselisihan kecil kami. Dia roommate wanita satu – satunya setelah Laetitia pergi.
“Oh… Dor, mau pasta?” Tanya Wyatt.
“Sebenarnya aku hanya ingin minum, namun aku mendengar kalian bertengkar.” Jawab Dorothea.
“Tidak seperti yang kau pikirkan Dor, kami hanya kurang sependapat.” Jawabku, mengelak.
“Ya… ya… ya…, omong – omong, kau jadi mengambil cutimu Cameron?” Tanya Dorothea.
“Yeah.” Jawabku lemah.
“Kau ada rencana keluar flat hari ini?” Dorothea menatap mataku seakan menerawang kedalam pikiranku.
“Belum tahu.” Aku menundukkan kepalaku, memikirkan hal membosankan apa yang mungkin kulakukan.
“Sebenarnya aku tidak enak membicarakan ini.” Kata Dorothea membuatku dan Wyatt yang masih sibuk melahap sarapan menatapnya. “Maaf karena aku baru membicarakan hal ini, hari ini temanku datang untuk menempati kamar lama Laetitia. Sebenarnya aku sudah berjanji untuk tetap disini dan membantunya, tapi aku mendadak ada urusan penting di kantor. Cam… aku harap kamu menyambutnya dengan baik. Temanku ini sangat pemalu dan menjaga jarak dengan pria.” Pungkas Dorothea.
“Apa temanmu secantik Laetitia?” Tanya Wyatt disertai tawa.
                “Mereka berdua sama – sama cantik, hanya berbeda ras saja.” Jawab Dorothea.
“Lantas dari mana dia berasal?” Wyatt setengah berteriak, namun Dorothea sudah masuk ke dalam kamarnya. Aku melihat Wyatt mengernyitkan dahi tanda kurang mengerti, karena akupun juga belum mengerti.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, aku mulai bosan tinggal di kamar seharian. Bahkan sejak pagi urusan mencuci pakaian dan membersihkan flat hingga menemukan foto Laetitia, yang belum kulakukan hanya makan. Bunyi bel mengacaukan pikiranku, aku langsung keluar kamar dan menuju ruang tamu, itu pasti teman Dorothea. Tanpa pikir panjang, langsung kubukan pintu flat dan aku tidak bisa berkata – kata. Aku bisa menjamin, gadis yang berdiri di depanku menganggapku orang aneh karena melihatnya dengan mata terbelalak dan mulut terbuka tanpa berkata sedikitpun.
“Maaf, apa benar Dorothea tinggal di flat ini?” Tanya gadis itu.
“Benar, anda siapa?” Tanyaku dengan suara bergetar.
“Saya Hiqma, teman Dorothea, untuk sementara saya akan tinggal disini.” Jawabnya.
“Saya Cameron, kebetulan Dorothea sedang keluar karena ada urusan penting, biar kubantu membawakan kopermu dan menunjukkan dimana kamarmu.” Aku mencoba ramah sambil memberikan tanganku, mengajak bersalaman.
“Terimakasih, tapi barangku tidak banyak, tunjukkan saja dimana kamarku.” Jawabnya, yang membuatku kesal karena dia tidak menghiraukan tanganku yang sudah berbaik hati mengajaknya bersalaman.
“Kamarmu ada di ujung sana, ini kuncinya dan jika perlu bantuan aku ada disana.” Aku masih mencoba berbaik hati dengan memberikan basa – basi. Setelah kutunjukkan dimana kamarnya, aku langsung menuju kamarku. Aku tidak habis pikir, gadis  itu sombong sekali. “Apa karena aku gendut? Huh…” Tanyaku dalam hati.
Tanganku menekan – nekan tombol untuk menanyakan langsung pada Dorothea. “Hei Dor, apa benar kau memiliki teman seperti itu?” Tanyaku langsung setelah Dorothea mengangkatnya.
“Seperti apa maksudmu?” Tanya Dorothea.
“Berpenampilan aneh, tidak mau bersalaman denganku dan menolak bantuanku, sombong sekali dia.” Jawabku menggebu – gebu.
“Aku sudah bilang padamu bahwa dia adalah wanita pemalu yang selalu menjaga jarak dengan pria. Sudahlah aku sedang sibuk.” Jawab Dorothea, tiba – tiba sambungan telephone kami terputus dan aku hanya bisa menggelengkan kepala tanda tidak memahami hal aneh yang terjadi bertubi padaku. Kenapa semua wanita sepertinya alergi saat melihatku, bahkan wanita yang berpenampilan aneh seperti itu.
***
                Aku tidak sanggup lagi menahan gejolak dalam perutku yang meminta untuk diisi. Tanpa sadar aku membuka lemari pendingin yang kurindukan dan mengambil beberapa potong pastry dan meminum jus jeruk milik Wyatt. Rasanya enak sekali melahap makanan ketika lapar. Aku tidak pernah merasa sepuas ini saat makan, selama ini yang kutahu hanyalah makan dan makan tanpa pernah merasa puas. Tidak lama setelah merapikan peralatan makan, aku baru tersadar bahwa sedari tadi aku mendengar nyanyian dengan bahasa yang tidak kukenal, namun terdengar sangat indah mengalun di telingaku. Aku mengikuti rasa penasaranku dan berjalan ke arah pusat suara. Ternyata suara gadis aneh itu sangat indah, mungkin ini lagu dari negaranya.
                “Kau sedang apa di depan kamarku?” Tanya Hiqma yang tiba – tiba membuka pintu tanpa sempat aku beranjak dari depan kamarnya. Sekarang pakaiannya lebih aneh, terdiri dari potongan atas dan rok yang sangat panjang dan longgar menutupi seluruh bagian tubuh kecuali wajahnya.
                “Aku hanya…, aku…, suaramu bagus…, aku ingin tahu lagu apa yang sedari tadi kau nyanyikan?” Tanyaku gugup.
                “Oh, aku bukan bernyanyi, tadi aku membaca kitab suciku, Al Quran.” Jawabnya.
                “Apa aku boleh membacanya juga?” Tanyaku penasaran.
                “Mungkin akan sangat sensitive, aku tahu dari Dorothea bahwa kalian semua disini Agnostik.” Jawabnya ragu.
                “Apakah agamamu yang melarangmu untuk bergaul dengan pria dan menjadi sangat pemilih?” Tanyaku, terus terang aku merasa tersinggung.
                “Bukan seperti itu, aku sangat menghargai kalian semua. Maaf, memang tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Tapi seorang perempuan memang tidak diperbolehkan untuk terlalu banyak bergaul dengan laki – laki. Itu bukan berarti aku membencimu.” Jawab Hiqma, kali ini lebih tegas.
                “Apa kau pikir aku akan melakukan hal yang tidak – tidak padamu?” Tanyaku sebal. “Bahkan gadis – gadis disini jauh lebih menggoda darimu dan mereka akan bersedia melakukan hal yang lebih tanpa diminta. Aku hanya sedikit kesal karena kau terlihat sombong.” Aku tidak menyangka akan mengucapkan hal yang sejujurnya secepat ini.
                “Maaf bukan seperti itu maksudku. Tapi aku yakin kau akan mengerti setelah membaca ketentuan yang sudah ditetapkan di dalam kitab suci dalam agama kepercayaanku.” Hiqma memberikan satu buku tebal berwarna cokelat miliknya.
                “Kau memberikan ini padaku?” Tanyaku heran.
                “Aku berubah pikiran.” Jawab Hiqma disertai senyum kecil yang hangat. “Aku harap kita akan menjadi roommate yang saling menghargai.” Pungkas Hiqma sambil menutup pintu kamarnya, masih dengan senyum bersahabatnya. Aku tidak mengerti, sungguh aku tidak mengerti setiap kalimat yang dibicarakan Hiqma, namun senyum hangat itu telah membuat rasa kesalku hilang. Senyum yang sederhana, namun memabukkan. Aku harus membaca buku ini untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud Hiqma.
***
Satu Minggu berlalu, aku sudah kembali aktif bekerja. Pekerjaanku sebagai reporter bertambah berat saat hari besar seperti sekarang ini. Seluruh Milan, bahkan seluruh dunia hari ini merayakan natal. Aku tidak mendapatkan libur seperti Wyatt yang memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Berlin dan Dorothea yang pulang ke Napoli, walaupun jelas – jelas mereka sudah menjadi Agnostik sepertiku, namun selalu berpura – pura religious ketika pulang ke rumahnya. Beruntung aku dibesarkan di panti asuhan yang dimana tidak seorangpun memperhatikan dengan baik seperti apa kepribadianku yang sebenarnya. Aku tidak perlu khawatir bekerja di hari libur karena tidak ada yang membutuhkan kehadiranku untuk bersama di hari – hari tertentu. Lagipula mungkin orang tuaku tidak pernah menginginkan kehadiranku di dunia ini. Jadi anggap saja hidupku ini tidak ada artinya.
Aku pulang larut lagi, mungkin ini sudah hampir pagi. Badanku terasa payah, untung saja besok aku mendapatkan libur yang kuidamkan. Aku dapat merasakan nikmatnya istirahat seharian. Aku terhenyak mendapati suara indah seperti yang biasa kudengar, dari kamar Hiqma. Dengan mengikuti alunan nada itu, aku semakin terhanyut dan menikmati suara indah yang menggema di telingaku. Kulihat arlojiku menunjukkan pukul tiga pagi. Aku penasaran sekali kenapa dia tidak menggunakan waktu tidurnya dengan baik dan malah bernanyi. Ingin sekali aku bertanya langsung, namun kuurungkan niatku setelah beberapa saat sudah tidak ada lagi suara yang kudengar. Mungkin Hiqma sudah kembali tidur, atau dia sedang mengigau. Ah, mana mungkin mengigau bisa terdengar seindah itu. Tanpa sadar aku mulai tersenyum dan berharap memimpikan senyuman sederhana milik Hiqma.
***
                “Selamat pagi Hiqma, kau tidak keluar?” Tanyaku basa – basi ketika melihat Hiqma menyiapkan makanan di dapur. Aku tidak melihat jam dan langsung menuju dapur saat bangun, rasanya perutku sangat lapar.
                “Maaf Cam, ini sudah siang.” Kulihat Hiqma tersenyum sekilas dan kembali fokus kepada memasukkan makanan kedalam microwave.
“Kau tidak pulang ke rumahmu, Hiqma?” Tanyaku.
“Kami tidak merayakan natal.” Hiqma tampak termenung sejenak.
“Bukan begitu, maksudku, ini hari libur.” Aku coba mengklarifikasi pernyataanku.
“Bahkan aku baru saja menerima gaji pertamaku, aku tidak mungkin meminta uang kepada orang tuaku untuk pulang ke Mesir.” Jawab Hiqma. “Kau mau lasagna?” Hiqma mengalihkan pembicaraan sebelum mulutku bersuara.
                “Mau.” Jawabku jujur. “Maaf Hiqma, aku belum sempat membaca buku itu, beberapa hari ini tugasku semakin berat karena harus meliput perayaan natal.”
                “Iya, tapi apa kau bermasalah dengan bahasanya? Maaf karena aku hanya memiliki Al Quran dengan terjemahan bahasa Inggris. Seperti yang kau tahu, aku ini baru pindah ke Italia” Hiqma berbicara seolah ingin menebak maksud dari pandangan mataku.
                “Bukan begitu, aku hanya belum memilik waktu yang tepat dan aku berencana untuk membacanya hari ini, apa kau bersedia menjelaskan padaku jika ada hal yang kurang kupahami?” Tanyaku.
                “Tentu saja. Aku juga tidak ingin kau salah mengartikan tentang kami.” Jawab Hiqma. Tangan cekatannya kini sudah selesai menyiapkan potongan rapi lasagna yang disediakan untuk makan siang kami.
                “Terimakasih Hiqma.” Kami makan bersama tanpa banyak berbicara. Tidak seperti biasanya, Hiqma selalu makan di dalam kamarnya. Aku senang Hiqma mulai menunjukkan sikap bersahabat, walaupun dia selalu menjaga jarak dan pandangannya terhadapku.
***