“Wyatt?”
Aku menyapa teman satu flatku
sesampainya di dapur.
“Oh…
hai Cameron, aku sedang menunggu pastaku matang. Kau mau memanaskan makanan
juga atau mau memasak?” Tanya Wyatt.
“Tidak
Wyatt, aku hanya ingin minum.” Jawabku.
“Hei
bro, kau tidak perlu diet hanya karena Laetitia mencampakanmu.” Wyatt memukul
pundakku pelan, namun cukup membuatku tersedak.
“Aku
tidak diet, hanya saja perutku masih kenyang.” Aku menoleh ke arah Wyatt yang
sedang mengambil pasta dari microwave membuat
perutku bergejolak. Aku muak dengan perasaan ini, sudah seminggu namun aku
masih memikirkan Laetitia. Terutama kalimat terakhirnya, “Aku tidak mungkin berpacaran dengan pria bergelambir.”
“Cam,
ini untukmu.” Wyatt menaruh separuh bagian pastanya di depanku.
“Sudah
kubilang, aku belum lapar.” Sergahku.
“Kau
tidak mendengar teriakan cacing di perutmu barusan?” Tanya Wyatt, dengan nada
kesal.
Sebenarnya
aku malu namun aku benar – benar belum bisa fokus menanggapi hal apapun. Aku
sengaja meminta cuti karena kinerjaku akhir – akhir ini mengecewakan. Segera
kulahap pasta tadi dan menghabiskannya seperti orang kelaparan. “Enak?” Tanya
Wyatt, mengagetkan lamunanku.
“Iya.”
Tanpa sadar makanan di depanku sudah ludes tak bersisa.
“Aku
masih memiliki beberapa stok di lemari pendingin.” Wyatt menunjuk ke
belakangku, kotak besar dan dingin favoritku. Rasanya sudah lama sekali aku
tidak membukanya.
“Tidak
Wyatt, ini sudah cukup.” Aku memperingatkan.
“Cam,
aku serius. Laetitia hanya mencari alasan untuk kabur dengan pria itu.” Wyatt
semakin terbawa emosi.
“Selamat
pagi.” Suara Dorothea menghentikan perselisihan kecil kami. Dia roommate wanita satu – satunya setelah Laetitia
pergi.
“Oh…
Dor, mau pasta?” Tanya Wyatt.
“Sebenarnya
aku hanya ingin minum, namun aku mendengar kalian bertengkar.” Jawab Dorothea.
“Tidak
seperti yang kau pikirkan Dor, kami hanya kurang sependapat.” Jawabku,
mengelak.
“Ya…
ya… ya…, omong – omong, kau jadi mengambil cutimu Cameron?” Tanya Dorothea.
“Yeah.”
Jawabku lemah.
“Kau
ada rencana keluar flat hari ini?”
Dorothea menatap mataku seakan menerawang kedalam pikiranku.
“Belum
tahu.” Aku menundukkan kepalaku, memikirkan hal membosankan apa yang mungkin
kulakukan.
“Sebenarnya
aku tidak enak membicarakan ini.” Kata Dorothea membuatku dan Wyatt yang masih
sibuk melahap sarapan menatapnya. “Maaf karena aku baru membicarakan hal ini, hari
ini temanku datang untuk menempati kamar lama Laetitia. Sebenarnya aku sudah
berjanji untuk tetap disini dan membantunya, tapi aku mendadak ada urusan
penting di kantor. Cam… aku harap kamu menyambutnya dengan baik. Temanku ini
sangat pemalu dan menjaga jarak dengan pria.” Pungkas Dorothea.
“Apa
temanmu secantik Laetitia?” Tanya Wyatt disertai tawa.
“Mereka berdua sama – sama
cantik, hanya berbeda ras saja.” Jawab Dorothea.
“Lantas
dari mana dia berasal?” Wyatt setengah berteriak, namun Dorothea sudah masuk ke
dalam kamarnya. Aku melihat Wyatt mengernyitkan dahi tanda kurang mengerti,
karena akupun juga belum mengerti.
***
Waktu
sudah menunjukkan pukul satu siang, aku mulai bosan tinggal di kamar seharian.
Bahkan sejak pagi urusan mencuci pakaian dan membersihkan flat hingga menemukan foto Laetitia, yang belum kulakukan hanya
makan. Bunyi bel mengacaukan pikiranku, aku langsung keluar kamar dan menuju
ruang tamu, itu pasti teman Dorothea. Tanpa pikir panjang, langsung kubukan
pintu flat dan aku tidak bisa berkata
– kata. Aku bisa menjamin, gadis yang berdiri di depanku menganggapku orang
aneh karena melihatnya dengan mata terbelalak dan mulut terbuka tanpa berkata
sedikitpun.
“Maaf,
apa benar Dorothea tinggal di flat
ini?” Tanya gadis itu.
“Benar,
anda siapa?” Tanyaku dengan suara bergetar.
“Saya
Hiqma, teman Dorothea, untuk sementara saya akan tinggal disini.” Jawabnya.
“Saya
Cameron, kebetulan Dorothea sedang keluar karena ada urusan penting, biar
kubantu membawakan kopermu dan menunjukkan dimana kamarmu.” Aku mencoba ramah
sambil memberikan tanganku, mengajak bersalaman.
“Terimakasih,
tapi barangku tidak banyak, tunjukkan saja dimana kamarku.” Jawabnya, yang
membuatku kesal karena dia tidak menghiraukan tanganku yang sudah berbaik hati
mengajaknya bersalaman.
“Kamarmu
ada di ujung sana, ini kuncinya dan jika perlu bantuan aku ada disana.” Aku
masih mencoba berbaik hati dengan memberikan basa – basi. Setelah kutunjukkan
dimana kamarnya, aku langsung menuju kamarku. Aku tidak habis pikir, gadis itu sombong sekali. “Apa karena aku gendut? Huh…” Tanyaku dalam hati.
Tanganku
menekan – nekan tombol untuk menanyakan langsung pada Dorothea. “Hei Dor, apa
benar kau memiliki teman seperti itu?” Tanyaku langsung setelah Dorothea
mengangkatnya.
“Seperti
apa maksudmu?” Tanya Dorothea.
“Berpenampilan
aneh, tidak mau bersalaman denganku dan menolak bantuanku, sombong sekali dia.”
Jawabku menggebu – gebu.
“Aku
sudah bilang padamu bahwa dia adalah wanita pemalu yang selalu menjaga jarak
dengan pria. Sudahlah aku sedang sibuk.” Jawab Dorothea, tiba – tiba sambungan
telephone kami terputus dan aku hanya bisa menggelengkan kepala tanda tidak
memahami hal aneh yang terjadi bertubi padaku. Kenapa semua wanita sepertinya
alergi saat melihatku, bahkan wanita yang berpenampilan aneh seperti itu.
***
Aku tidak sanggup lagi menahan
gejolak dalam perutku yang meminta untuk diisi. Tanpa sadar aku membuka lemari
pendingin yang kurindukan dan mengambil beberapa potong pastry dan meminum jus jeruk milik Wyatt. Rasanya enak sekali
melahap makanan ketika lapar. Aku tidak pernah merasa sepuas ini saat makan,
selama ini yang kutahu hanyalah makan dan makan tanpa pernah merasa puas. Tidak
lama setelah merapikan peralatan makan, aku baru tersadar bahwa sedari tadi aku
mendengar nyanyian dengan bahasa yang tidak kukenal, namun terdengar sangat
indah mengalun di telingaku. Aku mengikuti rasa penasaranku dan berjalan ke
arah pusat suara. Ternyata suara gadis aneh itu sangat indah, mungkin ini lagu
dari negaranya.
“Kau sedang apa di depan
kamarku?” Tanya Hiqma yang tiba – tiba membuka pintu tanpa sempat aku beranjak
dari depan kamarnya. Sekarang pakaiannya lebih aneh, terdiri dari potongan atas
dan rok yang sangat panjang dan longgar menutupi seluruh bagian tubuh kecuali
wajahnya.
“Aku hanya…, aku…, suaramu
bagus…, aku ingin tahu lagu apa yang sedari tadi kau nyanyikan?” Tanyaku gugup.
“Oh, aku bukan bernyanyi, tadi
aku membaca kitab suciku, Al Quran.” Jawabnya.
“Apa aku boleh membacanya juga?”
Tanyaku penasaran.
“Mungkin akan sangat sensitive,
aku tahu dari Dorothea bahwa kalian semua disini Agnostik.” Jawabnya ragu.
“Apakah agamamu yang melarangmu
untuk bergaul dengan pria dan menjadi sangat pemilih?” Tanyaku, terus terang
aku merasa tersinggung.
“Bukan seperti itu, aku sangat
menghargai kalian semua. Maaf, memang tidak seharusnya aku berkata seperti itu.
Tapi seorang perempuan memang tidak diperbolehkan untuk terlalu banyak bergaul
dengan laki – laki. Itu bukan berarti aku membencimu.” Jawab Hiqma, kali ini
lebih tegas.
“Apa kau pikir aku akan
melakukan hal yang tidak – tidak padamu?” Tanyaku sebal. “Bahkan gadis – gadis
disini jauh lebih menggoda darimu dan mereka akan bersedia melakukan hal yang
lebih tanpa diminta. Aku hanya sedikit kesal karena kau terlihat sombong.” Aku
tidak menyangka akan mengucapkan hal yang sejujurnya secepat ini.
“Maaf bukan seperti itu
maksudku. Tapi aku yakin kau akan mengerti setelah membaca ketentuan yang sudah
ditetapkan di dalam kitab suci dalam agama kepercayaanku.” Hiqma memberikan
satu buku tebal berwarna cokelat miliknya.
“Kau memberikan ini padaku?”
Tanyaku heran.
“Aku berubah pikiran.” Jawab
Hiqma disertai senyum kecil yang hangat. “Aku harap kita akan menjadi roommate yang saling menghargai.”
Pungkas Hiqma sambil menutup pintu kamarnya, masih dengan senyum bersahabatnya.
Aku tidak mengerti, sungguh aku tidak mengerti setiap kalimat yang dibicarakan
Hiqma, namun senyum hangat itu telah membuat rasa kesalku hilang. Senyum yang
sederhana, namun memabukkan. Aku harus membaca buku ini untuk mengetahui apa
sebenarnya yang dimaksud Hiqma.
***
Satu
Minggu berlalu, aku sudah kembali aktif bekerja. Pekerjaanku sebagai reporter bertambah berat saat hari besar
seperti sekarang ini. Seluruh Milan, bahkan seluruh dunia hari ini merayakan
natal. Aku tidak mendapatkan libur seperti Wyatt yang memutuskan untuk pulang
ke kampung halamannya di Berlin dan Dorothea yang pulang ke Napoli, walaupun
jelas – jelas mereka sudah menjadi Agnostik
sepertiku, namun selalu berpura – pura religious
ketika pulang ke rumahnya. Beruntung aku dibesarkan di panti asuhan yang dimana
tidak seorangpun memperhatikan dengan baik seperti apa kepribadianku yang
sebenarnya. Aku tidak perlu khawatir bekerja di hari libur karena tidak ada
yang membutuhkan kehadiranku untuk bersama di hari – hari tertentu. Lagipula mungkin
orang tuaku tidak pernah menginginkan kehadiranku di dunia ini. Jadi anggap
saja hidupku ini tidak ada artinya.
Aku
pulang larut lagi, mungkin ini sudah hampir pagi. Badanku terasa payah, untung
saja besok aku mendapatkan libur yang kuidamkan. Aku dapat merasakan nikmatnya
istirahat seharian. Aku terhenyak mendapati suara indah seperti yang biasa
kudengar, dari kamar Hiqma. Dengan mengikuti alunan nada itu, aku semakin
terhanyut dan menikmati suara indah yang menggema di telingaku. Kulihat
arlojiku menunjukkan pukul tiga pagi. Aku penasaran sekali kenapa dia tidak
menggunakan waktu tidurnya dengan baik dan malah bernanyi. Ingin sekali aku
bertanya langsung, namun kuurungkan niatku setelah beberapa saat sudah tidak
ada lagi suara yang kudengar. Mungkin Hiqma sudah kembali tidur, atau dia
sedang mengigau. Ah, mana mungkin mengigau bisa terdengar seindah itu. Tanpa
sadar aku mulai tersenyum dan berharap memimpikan senyuman sederhana milik
Hiqma.
***
“Selamat pagi Hiqma, kau tidak
keluar?” Tanyaku basa – basi ketika melihat Hiqma menyiapkan makanan di dapur.
Aku tidak melihat jam dan langsung menuju dapur saat bangun, rasanya perutku
sangat lapar.
“Maaf Cam, ini sudah siang.”
Kulihat Hiqma tersenyum sekilas dan kembali fokus kepada memasukkan makanan
kedalam microwave.
“Kau
tidak pulang ke rumahmu, Hiqma?” Tanyaku.
“Kami
tidak merayakan natal.” Hiqma tampak termenung sejenak.
“Bukan
begitu, maksudku, ini hari libur.” Aku coba mengklarifikasi pernyataanku.
“Bahkan
aku baru saja menerima gaji pertamaku, aku tidak mungkin meminta uang kepada
orang tuaku untuk pulang ke Mesir.” Jawab Hiqma. “Kau mau lasagna?” Hiqma mengalihkan pembicaraan sebelum mulutku bersuara.
“Mau.” Jawabku jujur. “Maaf
Hiqma, aku belum sempat membaca buku itu, beberapa hari ini tugasku semakin
berat karena harus meliput perayaan natal.”
“Iya, tapi apa kau bermasalah
dengan bahasanya? Maaf karena aku hanya memiliki Al Quran dengan terjemahan
bahasa Inggris. Seperti yang kau tahu, aku ini baru pindah ke Italia” Hiqma
berbicara seolah ingin menebak maksud dari pandangan mataku.
“Bukan begitu, aku hanya belum
memilik waktu yang tepat dan aku berencana untuk membacanya hari ini, apa kau
bersedia menjelaskan padaku jika ada hal yang kurang kupahami?” Tanyaku.
“Tentu saja. Aku juga tidak
ingin kau salah mengartikan tentang kami.” Jawab Hiqma. Tangan cekatannya kini
sudah selesai menyiapkan potongan rapi lasagna yang disediakan untuk makan
siang kami.
“Terimakasih Hiqma.” Kami makan
bersama tanpa banyak berbicara. Tidak seperti biasanya, Hiqma selalu makan di
dalam kamarnya. Aku senang Hiqma mulai menunjukkan sikap bersahabat, walaupun
dia selalu menjaga jarak dan pandangannya terhadapku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar