“Sorry, I don’t mind, the door is open. I just
want to know, what makes my wall vibrating.” Tiba – tiba seorang gadis
oriental dengan postur tubuh proporsional membuka pintu kamarku yang setengah
terbuka. Aku segera beranjak turun dari kursiku.
“No problem, sorry for the noisy voice, I
just put in the clock, by the way you can speak Bahasa?” Tanyaku pada gadis
itu, sambil menunjuk jam dinding yang baru saja kupasang.
“Ya, of course.” Jawabnya, masih berdiri
tegak sambil melihatku mendekat ke arahnya.
“Perkenalkan,
aku Arnold, mulai hari ini aku tinggal disini. Maaf belum sempat keliling dan memperkenalkan
diri.” Aku mencoba basa – basi sambil memberikan tanganku.
“Justru
aku yang minta maaf karena sudah mengganggu, aku Yu Jin. Aku pikir kamu tidak
bisa berbahasa Indonesia, karena mata biru dan rambut kecoklatanmu itu.” Gadis itu
tersenyum sambil menerima tanganku untuk bersalaman.
“Papaku
memang dari Kanada, tapi Mamaku orang Indonesia dan aku tinggal disini sejak lahir.
Namamu Eugene atau Eugenia kedengaran seperti nama barat, aku pikir kamu
oriental.” Aku memasang wajah penasaran.
“Sebenarnya
aku memang suka bila orang berfikir namaku Eugene tapi ejaan yang sebenarnya
adalah Yu Jin, aku keturunan Korea dan China.” Jawabnya sambil mengeja namanya per huruf.
“Menarik,
ngomong – ngomong maaf karena kamarku masih kotor dan berantakan.” Kukernyitkan
dahi dengan senyum yang menampilkan seluruh gigiku.
“Boleh
kubantu.” Yu Jin tersenyum, manis sekali.
“Tidak
usah, aku tidak mau merepotkan.” Jawabku, tapi Yu Jin sudah melakukan tindakan
seperti Mama kembali hidup dan merapikan kamarku dengan tulus tanpa
persetujuanku, membuat semua berjalan begitu cepat.
“Terimakasih
banyak Yu Jin, aku sangat terbantu.” Aku bersungguh – sungguh sambil menawarkan
segelas air pada Yu Jin.
“Terimakasih
kembali.” Jawab Yu Jin sambil menyesap minuman yang kuberikan.
Sejenak kami
hanya diam dan mulai canggung. ”Makan siang yuk, aku sudah banyak merepotkanmu
hari ini.” Aku mengajaknya keluar dan Yu Jin hanya mengangguk pelan.
***
“Ngomong
– ngomong ini hari Rabu, kamu tidak ada aktifitas?” Tanyaku.
“Aku
ada kuliah tadi pagi, tapi dosen berikutnya tidak masuk jadi pulang lebih awal.”
Jawabnya.
“Kamu
kuliah dimana?” Aku menatap wajahnya yang berseri.
“Di
Universitas sebelah kosan ini.” Jawab Yu Jin dengan nada bercanda, aku hanya
tertawa geli melihatnya. Karena aku memang menyewa kamar kos disamping
Universitas Indonesia. “Ngomong – ngomong, apa kamu seorang fotografer?” Yu Jin
kembali bertanya sambil menusukkan garpu ke bakso yang siap masuk ke mulutnya.
“Kamu
tahu dari mana?” Tanyaku penasaran.
“Aku
seperti pernah melihatmu sebelumnya dan tadi aku tidak sengaja melihat
tumpukkan album foto dan tentu saja kamera.” Jawabnya tegas.
“Apa
kamu seorang model?”Tanyaku kembali.
“Hanya
beberapa sesi, aku belum terkenal.” Jawabnya malu – malu.
“Hei,
kamu hebat. Tidak banyak model yang tetap mementingkan pendidikan.” Aku tidak
menyangka gadis ini lebih hebat dari yang kubayangkan.
“Kamu
sendiri sedang off hari ini?” Tanya Yu Jin, mengalihkan pembicaraan.
“Iya.
Oh ya rumahmu dimana?” Tanyaku.
“Glodok.”
Jawabnya sambil tersenyum. “Mudah ditebak kan, kamu sendiri?” Tanyanya ramah.
“Tidak
juga, rumahku di Kemang. Oh ya, kamu mengambil jurusan apa?” Tanyaku lagi.
“Hubungan
Internasional.” Jawabnya penuh percaya diri.
***
Aku
menyukai kegiatanku sehari – hari, memotret, melakukan editing dan mencetak, semua
rutinitasku di studio sangat menyenangkan dan cukup membuatku melupakan masalah
keluargaku. Aku memang tidak terlalu
peduli pada Kakak dan Papa, namun tetap saja mengganjal di pikiranku ketika
mengingat semua hal yang menjadi berantakan, terutama saat Mama pergi. Aku tidak
pernah menyangka semua ini terasa berat dan membuatku pusing. Aku mencoba lepas
dari kebiasaan baruku, namun sangat sulit. Aku mulai dibuat ketagihan oleh zat
adiktif yang membuat badanku merong – rong bila tidak menerimanya sehari saja. Namun
aku cukup bersyukur karena memiliki tetangga yang baik, dan cantik.
“Hei,
kenapa kamu mengetuk – ketuk tembokku, aku mau tidur.” Terdengar suara dari
seberang telephone.
“Maaf,
aku hanya rindu padamu. Kemana saja kamu akhir pekan ini?” Tanyaku pada Yu Jin.
“Aku
pulang ke rumah setiap akhir pekan.” Jawab Yu Jin.
“Baiklah,
selamat tidur.” Aku mengakhiri telephone karena tidak ingin mengganggu
tidurnya. Tapi menyenangkan sekali saat kucoba mengetuk tembok kamarku dan dia
mendengarnya. Aku dan Yu Jin tidur bersebelahan di posisi yang sama dan hanya
terhalang tembok.
***
Tok…
tok… tok…. Kudengar suara dari tembok kamar Yu Jin dan aku membalas ketukanya
sambil menelpon. “Good morning, georgeous.”
Terdengar
suara Yu Jin sedang menguap. “Sorry, ehm…
morning dude.” Jawabnya.
“Kamu
yang membangunkanku, tapi kamu yang masih mengantuk.” Godaku.
“Iya,
bagaimana ini.” Yu Jin terkekeh.
“Hari
ini kuliah atau pemotretan?” Tanyaku.
“Aku
ada kuliah siang.” Jawabnya.
“Ke
studioku yuk.” Ajakku.
“Boleh,
aku mandi dulu.” Jawabnya bersemangat.
“Baiklah.”
Jawabku. Aku bergegas mandi dan menyiapkan pakaian terbaikku lalu duduk di teras
sambil menunggu Yu Jin. Aku tidak tahu apa ini bisa dibilang kencan, tapi jujur
aku gugup.
“Sudah
menunggu lama?” Tanya Yu Jin.
“Belum,
ayo kita sarapan dulu.” Ajakku.
Kami
hanya sarapan bubur ayam di pinggir jalan, tapi bagiku itu tidak penting. Yang terpenting
adalah dengan siapa kamu menghabisakan sarapanmu dan senyum indah mana yang
akan kamu terima pagi ini. Sungguh semua ini menyejukkanku dan aku bisa
terlepas dari bayang – bayang ketidakharmonisan kehidupan keluargaku. Tidak lama
kami selesai makan dan berjalan menuju studio foto kecil milikku yang terletak
di depan kampus.
“Aku
tidak menyangka pria muda sepertimu sudah bisa memiliki usaha seperti ini.” Yu
Jin tersenyum manis sambil memasuki studio fotoku.
“Tidak
sekeren itu, ini uang dari Mama.” Jawabku.
“Pasti
Mamamu sangat baik.” Yu Jin berkata sambil mengamati foto Mama yang kupajang di
meja kerjaku.
“Tidak
juga, semasa hidupnya Mama selalu berantem dengan Papa.” Jawabku, lemah.
“Maaf,
aku tidak bermaksud.” Yu Jin mendatangiku dan meraba lembut wajahku dengan raut
wajah penuh penyesalan.
“Hei
tidak apa – apa, nobody’s perfect, right.”
Aku mencoba menghibur diri didepan Yu Jin. “Oh iya, aku ingin kamu menjadi
modelku pagi ini.”
“Kamu
harus membayarku.” Yu Jin terkekeh.
“Tidak
masalah, aku selalu professional.” Jawabku.
***
“Hei
georgeous, kenapa menangis.” Aku menghampiri
Yu Jin yang sedang menangis tersedu di depan kamarnya.
“Aku
benci tinggal dirumah.” Jawabnya.
“Ada
apa?” Tanyaku.
“Aku
selalu salah dan dianggap tidak berguna, aku selalu dibanding – bandingkan dengan
kedua kakakku dan yang paling parah Papaku bilang bahwa dia lebih memilih
pembantukulah yang menjadi anaknya dibandingkan aku dan kedua kakakku.” Jawabnya
sambil bersandar di bahuku.
“Aku
mengerti, kehidupanku juga tidak jauh lebih baik. Mama selalu merendahkan Papa
karena miskin dan lama kelamaan aku dan kakakku tidak menghormati Papa sampai
akhirnya Papa meninggalkan kami dan membuat Mama meninggal karena depresi.” Jawabku.
Yu Jin menatap mataku tajam seakan tidak percaya. “Hei, aku tidak bermaksud
membuatmu semakin sedih. Maafkan aku karena terlalu banyak bercerita.”
“Tidak
Arnold, aku jadi malu padamu karena menangis untuk hal sepele. Aku tidak
menyangka bahwa kisah hidupmu lebih menyedihkan. Maafkan aku.” Yu Jin
mengalihkan pandangannya.
“Lupakan
saja. Aku ingin memperlihatkan padamu bahwa dunia ini tidak sesempit yang kamu
fikirkan.” Yu Jin tampak penasaran namun kubiarkan dia larut dalam
pertanyaannya. Perjalanan malam hari memang lebih cepat karena jalanan sudah
mulai lenggang. Aku tidak bermaksud buruk dalam hal ini, namun kehidupan malam
memang kurasakan dapat menenangkan dan membersihkan pikiran dari hal – hal tidak
penting. Sesampainya di pub kuparkir
mobilku dan kami mulai memasuki tempat dimana terdapat kumpulan anak manusia
setengah sadar yang bertindak semaunya.
“Hei, ini tempat
apa?” Tanya Yu Jin.
“Ini
tempat untuk meluapkan segala kebencianmu, tumpahkan semuanya, berteriaklah..” Jawabku
bersemangat.
“Kib…
aku membencimu…, kamu yang membuat hidupku sengsara, Appa dan Eomma (Papa dan
Mama dalam bahasa Korea) membenciku dan Abraham.” Suara Yu Jin tercekat dan dia
mulai menangis. Aku tidak terlalu mengerti apa yang dia maksud, namun aku hanya
ingin dia menumpahkan segala kekesalannya agar bebannya hilang. Kami berdansa
dan menikmati malam ini bersama. Aku harap tidak akan ada lagi yang bisa membuat
air matanya jatuh.
“Yu
Jin, aku mencintaimu.” Aku mungkin tidak sadar saat mengucapkannya, namun
itulah yang ingin kukatakan dan aku belum pernah berani mencoba berbicara seperti
ini padanya saat sadar.
“Aku
juga mencintaimu, Abraham.” Aku hampir saja melepaskan Yu Jin dari pelukkanku
sebelum aku sadar bahwa Yu Jin mabuk berat. Namun aku cukup terkejut mendengar
nama Abraham. Apa aku tidak begitu
berarti bagi Yu Jin? Ah aku mendengus perlahan dan membawa Yu Jin kembali
pulang.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar