Translate

Jumat, 18 November 2016

Cerita Pendek - Mijn Gezin Niet Mijn Gezin (Keluargaku Bukan Keluargaku)



                “Gendis? Kamu benar Gendis?” Tanya seorang serdadu yang menghampiriku saat aku mulai akan memasuki Pasar Legi.
                “Iya benar, ini ada apa ya Pak?” Tanyaku kembali padanya.
                Opo kowe wes lali karo aku (Apa kamu sudah lupa padaku)?” Tanya serdadu itu lagi menggunakan Bahasa Jawa, membuatku semakin bingung, bukan karena tidak mengerti artinya terlebih karena aku tidak merasa mengenalnya. Sejenak dia menarik nafas dan membuka kalimatnya kembali. “Aku Bagio, Subagio.” Dia mempertegas kalimatnya dan terlihat dadanya yang busung itu menarik nafas tidak beraturan.
                “Mas Bagio, iki bener (ini benar) Mas Bagio.” Tanyaku seakan tidak percaya.
                Iyo bener Gendis Kinanthi. Saiki kowe wis nduwe anak po (Apa sekarang kamu sudah memiliki anak)?” Tanya serdadu itu sambil membelai kepala Ayu yang tidur di pelukanku.
                Iyo Mas, aku wes mbojo rong tahun kepungkur (aku sudah menikah dua tahun).” Jawabku, hatiku ikut hancur saat mengatakannya.
                Kowe mbojo mbek (Kamu menikah dengan) Penjajah, Gendis?” Suara Mas Bagio tercekat dan nafasnya semakin memburu memandangi rambut Ayu yang kecoklatan.
                Cepet lungo, bahaya yen kowe tetep neng kene (Cepat pergi, bahaya jika kamu tetap disini).” Sergah Mas Bagio saat menyadari beberapa serdadu lain sudah memanggilnya. Mas Bagio adalaah mantan kekasihku yang menghilang sejak tiga tahun yang lalu. Aku tidak menyangka dia masih hidup saat ditugaskan bergerilya ke Yogyakarta saat itu.
                “Gendis, omahmu neng ndi (rumahmu dimana)?” Mas Bagio menarik tanganku dan kubisikinya alamat  rumahku yang tidak terlalu jauh dari Pasar Legi. Dia mengangguk dan melambaikan tangan. Langah kakiku tidak bisa cepat karena aku menggunakan kain jarit, “Ah kudune aku nganggo rok wae (seharusnya tadi aku memakai rok saja)” gerutuku dalam hati. Di tengah perjalananku menuju ke rumah aku bertemu dengan serdadu Belanda, hatiku tidak karuan tapi mereka tidak terlalu kasar karena melihat rambut dan wajah Ayu yang hampir terbangun, lalu kuberanikan diri menjawab pertanyaan mereka walaupun dengan dialek Solo yang kental.
                Goede Morgen, waar uw huis (Selamat pagi, dimana rumahmu)?” Tanya salah seorang serdadu Belanda.
                Goede Morgen, mijn huis is er (Selamat pagi, rumahku disana).” Jawabku berpura – pura tenang, walaupun lidahku bergetar, untung saja Ayu tetap tenang di pelukanku.
                Serdadu – serdadu itu menengok kearah yang kutunjuk. Mereka menelan ludah bersamaan seperti mengerti maksudku. “Ga weg, geen gevaar (Pergilah, sedang ada bahaya).” Aku mengangguk pelan dan berlari kecil menuju rumahku yang tidak terlalu jauh. Aku tidak mengerti peperangan seperti apa yang akan terjadi lagi karena Man Lucas belum memberitahuku. Man berarti suami dalam bahasa Belanda, walaupun dia suamiku namun aku selalu melihat dia sebagai majikanku terlebih karena aku tidak pernah mencintainya.
                Ndoro putri seko ngendi wae, Meester Lucas nggoleki mrono – mrene (Nyonya dari mana saja, Tuan sudah mencarimu kesana – kemari).” Sambut pembantuku Mbok Irah di pintu gerbang sambil menarik lembut Ayu ke dalam gendongannya yang nyaman.
                Aku belum sempat menjawab, namun sudah ada suara keras yang mengagetkanku. “U waar overall (kamu dari mana saja)?” Tanya suamiku sambil menghampiriku dengan wajah cemas, Lucas langsung memelukku dan membelai wajahku lembut.
                Ik ging naar de markt (aku pergi kepasar).” Jawabku singkat tanpa memberitahu kejadian mengejutkan yang kualami.
                Voor wat, u kunt elke vragen, vanaf hier (Untuk apa, kamu bisa meminta apapun, dari sini)?” Tanyanya dengan nada menyentak, untung saja Ayu sudah dibawa Mbok Irah ke kamar.
                Pardon mijn man, ik ben gewoon varvelen (Maaf suamiku, aku hanya sedang bosan).” Jawabku lemah.
                Niet ooit weer te gaan (Jangan pernah pergi lagi).” Dia memelukku erat dan semakin erat. Aku tidak pernah peduli dengan apapun yang dia lakukan, karena selama ini aku selalu menganggap diriku sudah mati dan raga ini hanyalah boneka yang sudah dibeli oleh Lucas, penjajah negeri ini, penjajah kehidupanku. Aku tidak peduli bahwa Lucas tidak pernah berbuat jahat kepadaku, dia mencintaiku, sangat mencintaiku. Tapi aku tetap tidak bisa mencintainya, terlebih karena kehidupanku telah direnggut oleh sekumpulan orang asing dari tanah airnya. Orang tua dan adik – adikku terbunuh karena orang – orang berkulit putih. Apa sekarang aku harus menikmati kehidupanku menjadi bangsawan Belanda dan apa aku bisa melupakan semua kejadian itu? Walaupun bukan Lucas yang melakukan semua itu dan kini aku memiliki anak yang sangat mirip dengan Lucas, aku tetap tidak bisa mencintainya.

1 komentar: