“Gendis?
Kamu benar Gendis?” Tanya seorang serdadu yang menghampiriku saat aku mulai
akan memasuki Pasar Legi.
“Iya
benar, ini ada apa ya Pak?” Tanyaku kembali padanya.
“Opo kowe wes lali karo aku (Apa kamu
sudah lupa padaku)?” Tanya serdadu itu lagi menggunakan Bahasa Jawa, membuatku
semakin bingung, bukan karena tidak mengerti artinya terlebih karena aku tidak
merasa mengenalnya. Sejenak dia menarik nafas dan membuka kalimatnya kembali. “Aku
Bagio, Subagio.” Dia mempertegas kalimatnya dan terlihat dadanya yang busung
itu menarik nafas tidak beraturan.
“Mas
Bagio, iki bener (ini benar) Mas
Bagio.” Tanyaku seakan tidak percaya.
“Iyo bener Gendis Kinanthi. Saiki kowe wis nduwe anak po (Apa
sekarang kamu sudah memiliki anak)?” Tanya serdadu itu sambil membelai kepala
Ayu yang tidur di pelukanku.
“Iyo Mas, aku wes mbojo rong tahun kepungkur (aku sudah menikah dua tahun).” Jawabku,
hatiku ikut hancur saat mengatakannya.
“Kowe mbojo mbek (Kamu menikah dengan) Penjajah,
Gendis?” Suara Mas Bagio tercekat dan nafasnya semakin memburu memandangi
rambut Ayu yang kecoklatan.
“Cepet lungo, bahaya yen kowe tetep neng kene
(Cepat pergi, bahaya jika kamu tetap disini).” Sergah Mas Bagio saat
menyadari beberapa serdadu lain sudah memanggilnya. Mas Bagio adalaah mantan
kekasihku yang menghilang sejak tiga tahun yang lalu. Aku tidak menyangka dia
masih hidup saat ditugaskan bergerilya ke Yogyakarta saat itu.
“Gendis,
omahmu neng ndi (rumahmu dimana)?”
Mas Bagio menarik tanganku dan kubisikinya alamat rumahku yang tidak terlalu jauh dari Pasar
Legi. Dia mengangguk dan melambaikan tangan. Langah kakiku tidak bisa cepat karena
aku menggunakan kain jarit, “Ah kudune
aku nganggo rok wae (seharusnya tadi aku memakai rok saja)” gerutuku dalam
hati. Di tengah perjalananku menuju ke rumah aku bertemu dengan serdadu
Belanda, hatiku tidak karuan tapi mereka tidak terlalu kasar karena melihat
rambut dan wajah Ayu yang hampir terbangun, lalu kuberanikan diri menjawab
pertanyaan mereka walaupun dengan dialek Solo
yang kental.
“Goede Morgen, waar uw huis (Selamat
pagi, dimana rumahmu)?” Tanya salah seorang serdadu Belanda.
“Goede Morgen, mijn huis is er (Selamat
pagi, rumahku disana).” Jawabku berpura – pura tenang, walaupun lidahku
bergetar, untung saja Ayu tetap tenang di pelukanku.
Serdadu
– serdadu itu menengok kearah yang kutunjuk. Mereka menelan ludah bersamaan
seperti mengerti maksudku. “Ga weg, geen gevaar
(Pergilah, sedang ada bahaya).” Aku mengangguk pelan dan berlari kecil menuju
rumahku yang tidak terlalu jauh. Aku tidak mengerti peperangan seperti apa yang
akan terjadi lagi karena Man Lucas belum
memberitahuku. Man berarti suami dalam bahasa Belanda, walaupun dia suamiku
namun aku selalu melihat dia sebagai majikanku terlebih karena aku tidak pernah
mencintainya.
“Ndoro putri seko ngendi wae, Meester
Lucas nggoleki mrono – mrene (Nyonya
dari mana saja, Tuan sudah mencarimu kesana – kemari).” Sambut pembantuku Mbok
Irah di pintu gerbang sambil menarik lembut Ayu ke dalam gendongannya yang
nyaman.
Aku
belum sempat menjawab, namun sudah ada suara keras yang mengagetkanku. “U waar overall
(kamu dari mana saja)?” Tanya suamiku sambil menghampiriku dengan wajah cemas,
Lucas langsung memelukku dan membelai wajahku lembut.
“Ik ging naar de markt (aku pergi kepasar).”
Jawabku singkat tanpa memberitahu kejadian mengejutkan yang kualami.
“Voor wat, u kunt elke vragen, vanaf hier (Untuk
apa, kamu bisa meminta apapun, dari sini)?” Tanyanya dengan nada menyentak,
untung saja Ayu sudah dibawa Mbok Irah ke kamar.
“Pardon mijn man, ik ben gewoon varvelen (Maaf
suamiku, aku hanya sedang bosan).” Jawabku lemah.
“Niet ooit weer te gaan (Jangan pernah
pergi lagi).” Dia memelukku erat dan semakin erat. Aku tidak pernah peduli
dengan apapun yang dia lakukan, karena selama ini aku selalu menganggap diriku
sudah mati dan raga ini hanyalah boneka yang sudah dibeli oleh Lucas, penjajah
negeri ini, penjajah kehidupanku. Aku tidak peduli bahwa Lucas tidak pernah
berbuat jahat kepadaku, dia mencintaiku, sangat mencintaiku. Tapi aku tetap
tidak bisa mencintainya, terlebih karena kehidupanku telah direnggut oleh
sekumpulan orang asing dari tanah airnya. Orang tua dan adik – adikku terbunuh
karena orang – orang berkulit putih. Apa sekarang aku harus menikmati
kehidupanku menjadi bangsawan Belanda dan apa aku bisa melupakan semua kejadian
itu? Walaupun bukan Lucas yang melakukan semua itu dan kini aku memiliki anak
yang sangat mirip dengan Lucas, aku tetap tidak bisa mencintainya.
segera rilis cerita selanjutnya,endingnya harus greget yaa
BalasHapus